Showing posts with label light. Show all posts
Showing posts with label light. Show all posts

Jun 27, 2014

Ernest and Célestine (2012)

“But a bear and a mouse, it’s just not…”
“Not what? Not seemly? Not proper? Bears up above and mice down below?”



Célestine menorehkan pensil di atas kertas gambarnya, membuat sosok seekor beruang dan tikus yang sedang senyum berhadapan. Menjelang ujung malam, di sebuah kamar tidur panti asuhan. “Tak mungkin!”, kata mereka. Beruang adalah hewan yang besar, ganas, buas, kelaparan! Tidak hanya memakan satu tikus, atau sepuluh, bahkan ratusan! Mustahil untuk selamat ketika bertemu dengan beruang.

Di sebuah rumah yang berada di puncak bukit, butiran salju membangunkan Ernest dari masa hibernasi. Ia berjalan setengah sadar, membuka satu persatu panci dan toples yang penuh debu. Nihil. Hanya ada sedikit remah roti yang tersisa. Beberapa ekor burung hinggap dan menyambut sisa makanan yang ia punya. Usahanya untuk menangkap burung tersebut: Nihil. AARGH! Ia lapaar!! Ernest pun beranjak dari rumahnya, berbekal seperangkat alat musik ke taman kota.

Gigi seri dan makanan. Dua hal yang mempertemukan Ernest dan Célestine. Di depan sebuah toko permen yang berseberangan dengan toko gigi, keduanya melakukan transaksi dan memulai hubungan pertemanan mutualisme. Partner in crime. Ernest kelaparan, dan Célestine membutuhkan gigi seri. Untuk apa?

Menggambar dan bermusik. Nampaknya sulit menjanjikan penghidupan di tengah masyarakat urban. Tak seperti dokter gigi dan pengacara. Seni seakan-akan hanya ditakdirkan sebagai bentuk ekspresi, bukan jalur profesi. Berbisnis dengan segala manipulasi yang terdapat di dalamnya pun lebih diterima dan dianggap legal. Seperti yang dilakukan oleh salah satu keluarga Beruang. Sang ayah menjual permen kepada anak-anak kecil, agar gigi mereka rusak, dan membeli gigi di toko yang dimiliki oleh sang ibu.

Akibat merampok di kedua toko tersebut, Ernest dan Célestine pun menjadi buronan, baik di ‘dunia atas’ tempat para beruang tinggal, maupun ‘dunia bawah’ di mana tikus-tikus berada. Keduanya hidup bersama di puncak bukit. Ernest bernyanyi sepuasnya, Célestine menggambar sesukanya. Rumah yang memberi mereka ruang untuk menjadi berbeda. Namun kemudian keduanya pun tertangkap dan diadili dengan tuduhan menakut-nakuti.

Masyarakat kota, dengan segala homogenitas peradaban yang menyertainya, kini nampaknya tumbuh dan berkembang menjadi hakim yang picik. Nomotetis, bukan idiografis. Mereka yang dengan mudahnya melabeli abnormalitas sebagai suatu bentuk kesalahan dan patut mendapat hukuman.

Diadaptasi dari serial buku karangan Gabrielle Vincent. Manis, sekaligus kritis. Pada akhirnya, siapa kita untuk menilai? 


Jan 30, 2014

Her (2013)

"She's no just a computer."

Katakan kepada saya jika ada laki-laki yang lebih romantis daripada Theodore. Pekerjaan: penulis surat cinta. Mewakili isi hati terindah manusia dengan rangkaian kata, ia mampu memicu percikan dalam hati mereka. Memuji sinaran mata, senyuman indah, bahkan deretan gigi kecil yang menghiasi tawa. Siapa yang tak luluh lantak dibuatnya?

Namun ternyata cinta baginya tak seindah kata yang ia ciptakan, sebelum akhirnya ia 'bertemu' dengan Samantha. Dengan suaranya, Samantha datang dan berkembang dalam kisah hidup Theodore. 24/7. Ia membuka hari dengan sapaan selamat pagi, mendengarkan segala keluh kesah, menanggapi dengan hangat, menemani dalam tangis sedih dan bahagia, hingga menutup hari dengan ucapan selamat malam nan mesra. 

Cinta pada era masa depan. Ketika kehadiran tubuh aktual tergantikan oleh pendar layar dan melodi suara perangkat artifisial. Menciptakan peradaban, manusia perlahan menjadikan dirinya penguasa alam semesta. Namun ironisnya, cinta masih menjadi kebutuhan dasar. Manusiawi. 

Spike Jonze menyajikan dunia berbunga-bunga Theodore melalui serangkaian gambar yang minimalis namun luar biasa manis. Layaknya cintamu pada pasangan, sederhana tapi mendasar. Perlahan hadir, semerbak meruak, menetap, hingga akhirnya tanpa mengenal dimensi ruang dan waktu, ia mengendap.


"It's a dark and shiny place

But with you my dear
I'm safe and we're a million miles away.."

Dec 24, 2013

transit

No matter what anybody tells you, words and ideas can change the world.
(John Keating, Dead Poets Society)

Manusia, dengan segala isi hati dan kepalanya, konon diciptakan sebagai pengelola semesta. Ide-ide besar lahir dan berkembang, menyebar layaknya spora di udara. Mengisi setiap inci ruang perenungan, masuk dan mengendap dalam rupa yang berbeda, menguasai pergerakan makhluk hidup dan koloninya. Bersahutan, bertumpuk, bercampur, berlapis, lalu melebur, seakan baru tercipta. Namun tak ada yang asli, seperti kata mereka.


Seni, sebagai media ekspresi integrasi olah pikir dan rasa. Menajamkan kepekaan akan entitas diri dan apa yang ada di sekitar. Karena Tuhan begitu Maha Besarnya, Ia menciptakan tak satupun manusia yang sama. Ribuan, jutaan, milyaran, trilyunan. Jika hendak dimatematikakan, rasanya diperlukan angka pangkat kuadrat tak terhingga untuk menghitung kombinasinya.

Dengan segala keunikannya, manusia menciptakan karya seni, seni ‘menciptakan’ manusia. Memberikan pemaknaan pada pengalaman dan perasaan. Hujan rintik sore hari di tepi utara Bandung. Selasar Sunaryo. Rasanya seperti perayaan kelulusan terbaik yang pernah ada. Menikmati karya empat seniman yang mengalami masa residensi dengan karakteristiknya masing-masing.


Ahmad Jamparing

Kritis. Tajam. Radikal. Merah. Hitam. Lantang. Keras! Act Move! Rasanya seperti wujud gerakan anti-kemapanan. Seni baginya adalah “sisilain dari DINAMIKA moral manusia untuk mendukung sesuatu yang MENYEGARKAN”, sebagaimana tertuang pada salah satu karyanya. Arman dikatakan sebagai ‘seniman jalanan’, seringkali harus main kucing-kucingan dengan otoritas kepolisian dan keamanan. Energinya besar. Nampaknya jika saja ia bisa berteriak, gedung puluhan lantai pun luluh lantak dibuatnya.

anti-hero
m e r e k a



Claudia Dian

‘Spiritualitas rangka’. Halus. Berlubang. Sakit. Seperti berada di ruang hampa, ada perasaan sesak ketika melihat karyanya. Rangka, dimunculkan sebagai metafora objek untuk menampilkan gagasannya mengenai kesatuan antara makhluk dan Pencipta. Penyangga, sekaligus simbol kematian. Namun rasanya lebih personal, bukan hanya sebatas objek. Dan ternyata betul adanya, Dian mengalami kelainan tulang belakang (skoliosis) sejak remaja.

hollow studies

what i talk about when i talk about



Iwan Yusuf

Hiperealis. Tegas. Kuat. Presisi. Akurat. Detil hingga pori-pori. Ia dikenal sebagai pelukis yang mendalami potret. Iwan mengusung tema Kemanusiaan, yang ia wakili dalam bentuk wajah, bagian tubuh yang paling membedakan manusia yang satu dengan lainnya. Seperti mikroskop yang menelaah ekspresi manusia sampai sel terkecil. Foto dalam mikropiksel. Bahkan rasanya ketika kanvas dan cat tak cukup, ia menggunakan media lain, salah satunya jaring.

tatapan tembok

ilusi

Rio Sigit Baskoro

Urban dan masa kecil. Perkotaan tak pernah ramah terhadap manusia. Tak ada lagi taman kota. Mal mewah dan gedung perkantoran jadi juaranya. Setiap sudut diisi dengan fatamorgana kemewahan. Individu tak lagi berkuasa atas dirinya, mereka telah berubah menjadi konsumen. Nostalgia masa kecil, nampaknya bagi Rio menjadi pelarian dari kepungan gelombang arus urbanisasi. Namun tetap saja, saat ini yang ada adalah ‘anak kota’, dengan segala fasilitas permainan dan hiburan yang mengandalkan listrik dan stop kontak semata.

childhood memories #1
mallscape #2

Transit #2. Buat saya, ini tak sekadar ruang singgah sementara. 

Nov 28, 2013

ikoto / a place to be


Mereka bergerak layaknya angin. Kadang lemah gemulai seperti angin musim semi, kadang ganas melindas seperti tornado. Berdialog melalui tubuh, menggerakkan setiap inci sendi, seakan ingin berteriak kepada manusia lainnya,

 1 – Lahir
Terdengar racauan dalam bahasa asing. Cahaya hadir di satu titik. Satu per satu mereka hadir. Lahir sebagai penghuni. Liat menggeliat layaknya bayi. Perlahan memijak bumi. Menghirup, meraba, dan menyusuri, yang mereka sebut ini: dunia.

 2 – Marah
Ternyata dunia tak seindah surga. Terlihat ratusan, tidak, ribuan botol plastik bekas air kemasan. Menggunung, memenuhi permukaan. Mereka bergerak mendekat. Terdengar suara remasan. Persis ketika setelah kau habiskan air mineralmu, lalu meremukkan kemasannya. “Rasakan sensasinya”, ujar produsen, atas nama penyalahgunaan isi ulang.

Lalu memerah. Mereka marah. Menggigit plastik, merangkak dan menyapu singkirkan tumpukan plastik hingga ke sisi panggung. Bergerak cepat, membanting tubuh berkali-kali. Hingga lelah. Melambat, menunduk, berlutut, lalu lemah merebah.

3 – Lemah
Membiru. Suara denyut jantung melemah. Mereka meredup, pelan, seperti menjelang akhir nafas. Air ada pada tetes-tetes terakhir. Ironis. Ia terserap dalam ribuan kemasan yang kemudian menghabiskan nyawanya. Namun konon katanya, ia berdaur. Memanas, menguap, mengondensasi, lalu kembali ke bumi, dalam bentuk rintikan.

4 – Bangkit
Menjingga. Hujan turun, seakan memberi nyawa. Mereka bangkit, lalu kembali menari di atas bumi. Seperti meriang gembira, bergerak, melompat kegirangan. Seperti harapan. Bahwa suatu saat manusia sadar, dan bumi kembali bernafas lega sebagaimana seharusnya. Semoga saja.

Dua penari yang memiliki latar belakang dan karakter gerakan yang berbeda. Thô Anothaï, penari hip hop Prancis keturunan Laos. Ikko Suzuki, penari kontemporer Jepang, yang berakar Kagura, salah satu tari tradisi tertua di Jepang. Penampilan dan pesannya mungkin nampak sederhana: ‘cintai bumi’. Sering terdengar, namun tak kalah sering diabaikan. Mungkin mereka tahu, manusia tak akan lagi mendengar jika pesan ini diujarkan dalam bentuk ucapan. Terima kasih, Ikko dan Thô, untuk tak bosan mengingatkan tentang ‘a place to be’.

Oct 28, 2013

voor moeder

woman, I can hardly express 
my mixed emotions and my thoughtlessness
after all, I'm forever in your debt
and woman, I will try to express my inner feelings and thankfulness
for showing me the meaning of success

Ketika sendiri dalam perjalanan meninggalkan rumah. Nyanyian Lennon mengisi penuh ruang dan waktu. Sesaat aku teringat sosoknya, serta percakapan semalam yang masih membekas.

Ia berkata dengan halus. Bahwa segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur. Tak usah mempersulit diri sendiri dengan hal kecil, yang seakan-akan suatu saat bisa meruntuhkan duniamu. Seberat apapun masalahmu, santai saja. Jangan lupa berdoa. Berbuat baik pada sesama, niscaya akan dipermudah jalannya. Jangan pernah berburuk sangka. Manusia bukan Tuhan yang tanpa cela.

Aku masih ingat peluk ciumku padanya. Ia perempuan paling cantik dan kuat sedunia. Dengan segala hal yang diperjuangkan, ia tak pernah, sekalipun tak pernah, berkeluh kesah dengan hidup yang tak mudah. Baginya dunia terlalu indah untuk diisi dengan tangis sedih dan air mata. Tersenyum saja, dan tularkan senyummu, Tuhan tak pernah lupa akan umatNya.


Selamat ulang tahun Ibun,
so let me tell you again and again and again 
I love you, now and forever

Oct 11, 2013

library pictures



"Library pictures of the quickening canoe. The first of it's kind to get to the moon." -Arctic Monkeys

Minggu lalu, sehabis senja, pameran buku di Braga. Dan Tuhan mempertemukan si pacar dengan George Bernard Shaw dan Knut Hamsun. Bapak penjual buku yang baik hati menambahkan diskon sampai 35%, dan berapi-api bercerita mengenai Lapar-nya Hamsun. Ia yang, katanya, berdiri di depan pintu gerbong kereta dan membuka lebar mulutnya. Memasukkan sebanyak mungkin udara ke dalam rongga tubuh. Dan keesokan harinya, di Lawang Buku, giliran saya yang berjodoh dengan Herman Hesse :)

Mengiyakan teriakan Alex Turner: menembus ruangan penuh rak buku, melaju secepat kilat dengan kano, berangkat ke bulan!

Sep 30, 2013

l'apres-midi d'un foehn



For a while, I wish I could fly, as free as those plastics did so high. 
Like there's no burden, no pain, no tears. 
Then I realized, I did fly. 
There, with you holding my hands.

Jul 22, 2013

me and you vs the world

Soul mate is, your other half. The person who completes you. The person who makes you feel over and over again like you have butterflies. They don’t like you, they love you. Not the person you can spend the rest of your life with, but the person you can’t spend the rest of your life without.
(Anonymous)


Konon menurut Plato dan Aristophanes, manusia awalnya diciptakan bertangan empat, berkaki empat, berkepala satu, dan bermuka dua. Terdiri dari laki-laki, perempuan, dan androgyny. Laki-laki merupakan anak-anak matahari, perempuan anak-anak bumi,  dan  androgyny lahir di antara matahari dan bumi, menjadi keturunan bulan. Saat itu, manusia memiliki kekuatan yang maha dashyat sehingga mengancam kekuasaan dewa. Awalnya manusia ingin dihancurkan, namun dewa akan kehilangan penyembahnya. Lalu Zeus memutuskan untuk membelah mereka menjadi dua. Setiap manusia hanya memiliki satu alat kelamin, dan akan terus mencari ‘belahan’nya. Jika mereka saling bertemu, maka akan terjadi ‘kesepahaman tanpa kata’, merasa dipersatukan, dan senang luar biasa.

Sebelumnya di Mesir, legenda Osiris dan Isis. Dikandung dalam satu rahim, dilahirkan sebagai kembar, diceritakan kemudian jatuh cinta. Baik konsep Plato maupun Osiris, keduanya mitos yang telah dipercaya ribuan tahun lamanya. Lalu menurut agama, sejak kecil kita diceritakan mengenai Nabi Adam AS, dan Hawa yang diciptakan dari sepotong iganya. Teman baik saya pernah memberikan wacana, “Mengapa iga?”. Bukan kepala, karena tak dimaksudkan untuk mengepalai laki-laki. Bukan pula kaki, karena tidak untuk direndahkan dan diinjak. Tapi iga, karena dekat dengan hati.

Orang dulu berkata, “Mirip, tandanya jodoh”. Boleh percaya atau tidak, tapi bisa saja dijadikan masuk akal, kalau mau. Wajar saja kalau berparas serupa diyakini tandanya jodoh. Plato bilang, awalnya satu tubuh. Osiris dan Isis pun satu rahim, Hawa berasal dari bagian tubuh Adam. Jika mirip, maka jodoh? Atau jika jodoh, maka mirip? Rasanya seperti pertanyaan lebih dulu ayam atau telur.

Pernah merasakan berinteraksi dengan ‘seseorang’ yang memiliki ‘kesepahaman tanpa kata’? Tak usah banyak bicara, ia tahu yang kita maksud. Tanpa banyak tanya, ia sudah tahu arahnya. Soal selera, biasanya pun tak jauh berbeda. Tak ada manusia yang persis sama, tapi seakan kau pun tak keberatan dan dibuat sakit kepala dengan kemungkinan adanya perdebatan. Lempar satu wacana, dan waktu pun seakan mengalir dengan cepat. Rasanya terjadi proses kohesi antar tubuh dan seisi kepala. Mengacu pada James Redfield di Celestine Prophecy, semacam ada garis-garis energi yang bergerak mondar-mandir mengisi ruang. Semacam pembicaraan yang kemudian mengiyakan, karena ia mengucapkan kata-kata yang telah hadir di kepala.


Mungkin seperti melihat dunia dari kacamata 3D. Sebelah merah, sebelah biru. Namun jika dipakai bersamaan, yang terlihat adalah perspektif dalam dimensi baru. Ada kedalaman dan lapisan-lapisan ide serta rasa yang muncul bersahutan. Ada sensasi keterlibatan yang lebih ketika fungsi indera dimaksimalkan. Seperti menemukan kejutan demi kejutan makna di balik objek fana. Lalu dunia seakan melebur, terikat dalam satu pikiran, perasaan, tindakan. ‘Seseorang’nya saya berkata, “It’s like me and you versus the world”. Lagi-lagi mengiyakan. Ia tahu persis isi kepala, dan tentu saja, hati saya. Alhamdulillah.

Apr 25, 2013

kolosal maksimal




We're just a million little Gods causin' rain storms turnin' every good thing to rust!”
– Arcade Fire, Wake Up

Manusia. Makhluk dengan segala kehebatan indera dan akal yang ada di setiap inci tubuhnya. Kata Darwin, evolusi terjadi. Dari postur bungkuk dan berambut layaknya primata, hingga menjadi manusia tegak dan rupawan. Homo sapiens. Tercipta dari miliaran sel aktif yang terus melakukan regenerasi, terkumpul dalam suatu bentuk berupa jaringan, lalu menjadi organ yang berfungsi dalam sistem menjadi suatu orkestra yang begitu rapi dan terpola, diberikan otak sebagai pusat dari segala pemikiran dan perilaku, hingga sinkronisasi pun tercipta tanpa cela. Tubuh. Dalam wujud yang paling sempurna.

Lalu rasa diberikan sebagai penyeimbang logika. Ketika emosi pun muncul sejak membuka mata dan keluar dari rahim bunda. Menangis, seringkali menjadi penanda adanya kehidupan baru pada tubuh yang baru saja tiba di dunia. Air mata diciptakan sebagai bentuk penyerahan manusia pada rasa. Sedih maka menangis. Senang maka menangis. Wajah diciptakan sedemikian rupa sebagai media ekspresi emosi. Setiap bagian tubuh memiliki peran dan mekanisme sebagai pelindung dan penindak. Kelima indera bekerja dengan masing-masing perannya dalam menerima dan membalas respon dunia atas diri. Melalui jalur persepsi, interpretasi, kontemplasi, lalu reaksi.

Lalu diciptakan pula bumi. Bumi dan alam semesta. Disertai dengan air, udara, tanah, api, dan segala unsurnya. Konon tercipta dalam waktu jutaan bahkan milyaran tahun hingga sampai pada tahap ‘layak huni’. Dengan akal dan tubuh yang diberikan, serta menggunakan unsur-unsur yang disediakan, manusia beranjak membuat kondisi yang lebih nyaman. Dimulailah era peradaban. Ketika manusia melakukan manipulasi atas dunia.

Hasrat. Yang memanusiakan manusia, yang membedakan dari malaikat. Muncul sebagai sosok yang menyala, mewarnai tiap pribadi dengan spektrum yang berbeda, menimbulkan keinginan, memberikan percikan gairah, hingga terkadang membutakan. Bahwa ada kekuatan yang seringkali tak terbendung dalam diri, sampai merasa berhak memanipulasi dunia dan menundukkan manusia lainnya. Merasa Tuhan.

Manusia, bentuk kolosal maksimal dari kesempurnaan ciptaan. Merasa tak berujung dan berbatas. Namun sudah tertulis. Maktub. Bahwa ada masanya binasa. Dari, untuk, oleh manusia.

Mar 21, 2013

made-out-of-glue


books. musics. movies. love. he. is. me. half. side

I'm sticking with you
'Cos I'm made out of glue

Anything that you might do
I'm gonna do too

Mar 20, 2013

ad-din

“I searched for God and found only myself.
I searched for myself and found only God.”
- Rumi



Terjaga hingga ujung dini hari, lalu mendengar muadzin bernyanyi. Ketika bicara tentang Tuhan, ada di mana?

Ia yang tak berwujud, namun Maha Besar. Berpusat di setiap mahkluk, mengisi setiap pojok ruang semesta. Ia memenuhi udara, tak hanya di atas kita. Tak patut hanya ditakuti, tapi dicintai. Karena tak dihindari, namun diraih dan disimpan baik-baik dalam hati. Lebih daripada keluarga, kekasih, dan sahabat. Tak akan ada mereka kalau tak ada Pencipta.

Lalu ketika bicara agama, maka timbul wacana tentang tata cara, yang tertulis dalam sebuah buku sepanjang masa bernama kitab. Sembahyang, sebagai salah satunya. Menghadap kiblat, mengucap niat, mengangkat tangan sambil menyebut Maha Besar, membaca surat, mengucap pujian dan salam, hingga menyapa Malaikat yang mencatat segala perbuatan. Tanda penyerahan, dalam pertemuan. Karena yang diminta tak hanya sekadar ritual penyembahan berupa sederetan gerakan dan bacaan.

Aku pernah diingatkan,
Pahami betul setiap kata yang kamu ucapkan ketika sembahyang. Tuhan tak hanya mengenal satu bahasa.
Rasanya Ia paham segala makna, yang disampaikan dengan segala kata. Mungkin tak seperti ketika berbicara dengan sesama manusia. Berucap sambil menatap, didengar, lalu direspon saat itu juga.

Ia bekerja dengan caraNya.

Kadang secara tak sadar, kami menutup indera untuk jawaban yang tak diinginkan. Memohon sesuatu seakan-akan kami yang paling tahu, dan paling benar. Kadang lupa, ada yang Maha Tahu dan Maha Benar. Bukan tidak diberi jawaban, mungkin belum. Bukan diacuhkan, mungkin kami yang tidak peka. Membaca tanda. Rasanya perlu dilakukan ketika meminta.

Meminta diberikan apa yang Ia kehendaki.

Cukup, memang. Seharusnya tidak pernah meminta lebih daripada jatahnya. Dan seharusnya dua arah, maaf Tuhan, kadang  aku lupa. Mereka bilang, cinta tak hanya meminta, tapi juga memberi. Selain sebagai khalifah, kodrat manusia diciptakan untuk menyembah. Mengucap terima kasih banyak atas semua yang diberi. Meletakkan ujung dahi pada titik terendah tubuh, dan mengucap,
Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan aku memujiMu”.

Dec 20, 2012

song-to-the-klak

"trailernya to the wonder bagus ni"
"iya bagus, stevie wonder, 'i just called, to say, i, love you' "
"(nginyems) ...filmnya terrence malick ni"
"oo terrence malick, ini kan sutradaranya tengil"
"..."
"yang kemaren saya tulis naskahnya, kan kamu bukan produsernya?"
"ooh, iya ya, ini sutradaranya?"
"iya ih, ai kamu masa film sendiri lupa"

beralih ke depan pintu, sambil nali sepatu
"eh, kata si u, majalah concept ga ada lagi teh gara2 masalah kepemilikan"
"yah sayang banget, padahal bagus"
"iya dulu sampe ada dua majalahnya"
"oh iya ada yang kecil ya? apa namanya?"
"concept yang gede, babyboss yang kecil"
"nah itu, yang gede concept, yang kecil babyboss"
"hah? bukan, concept yang gede, yang kecil babyboss"


ia bangkit berdiri. sepatu kanvas yang terikat rapi di kaki kanannya, kaos kaki di kaki kiri, dan sepatu sebelah kiri yang terikat dengan manis di pinggangnya,
"yuk ah, pulang dulu"
"mm, ya ya" (ngeliatin, nginyem, manggut-manggut)
"kenapa? ada yang salah?"
"nggaa, iket pinggangnya bagus ni, beli dimana?"
"bagus dong" (memperlihatkan hiasan pinggang berupa sepatu sebelah kiri)
"itu kaki yang kiri, pake ini bagus ni" (memberikan sepatu karet buaya nan chantique)
"iya ni bagus ni" (dipake)

tolong ya Tuhan, tunjukkan jalan yang lurus. yang luruus.

Dec 11, 2012

mengantar abu

Akhir pekan kemarin, bersama ikra, pagi buta melintasi belantara dan batas kota, menuju daerah yang bernama Ci-ca-leng-ka. Namanya juga Bandung di akhir pekan, gerbang tol saja macetnya sudah fenomenal, ditambah ada beberapa acara hajatan yang terima-kasih-bapak2-ibu2, membuat jalan makin padat merapat.

Instruksi malam sebelumnya adalah, "Keluar tol Cileunyi, puter balik yang ke arah Garut, luruuus aja, pokoknya cari plang Dj*rum Su*er, luruus lagi, ntar ada plang, Garut lurus, Cicalengka kanan, belok kanan, ada pintu rel kereta, masuk, luruuus terus, ada plang Pondok Pesantren Wasilatul Huda, masuk aja." Patut dicermati pemirsa, panjangnya huruf vokal 'u' pada kata 'luruuus aja' menandakan jarak sebenarnya. Mulai dari panas-mendung-gerimis-hujan-reda-panas lagi, akhirnya sampai juga.





Dan inilah dia, kakang prabu yang sebentar lagi menyambut hari bahagia. Sayang sekali, neng geulis-nya sudah menanti di negeri Cililin nun jauh di sana. Deretan doa dan petuah pun disampaikan untuknya, dari orangtua, kerabat, dan orang-orang terdekat. Selamat ya, Abu Dzar Al-Gifari, semoga lancar jaya, bahagia selalu, serta mulia :)


mohon maklum, penganut aliran blurisme

Dec 10, 2012

i + u = us

"Gravitation is not responsible for people falling in love" 
-Albert Einstein



StéphanieI'm not sure I should accept this gift. Why do I deserve a present anyway?
StephaneBecause...for the occasion that you are pretty.


Nov 9, 2012

reading the universe in a silent night


Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata, ketika…”

Rumah buku tadi malam. Lampu jingga, musik sendu dan pelan, mengambil satu buku anak, LOVE by Vanni. Duduk di pojok ruangan, membuka perlahan setiap lembarnya dengan warna yang berbeda. Ia menghampiri, duduk di sebelah, dan bertanya, “Buku apa itu?” Aku hanya bisa tersenyum semanis yang kubisa sambil memperlihatkan halaman sampul depan. Memberikan separuh bagian ke pangkuannya, lalu sepasang matanya menemani pada halaman yang terbuka.


Malam jadi saksinya…”

Lalu hujan menemani malam dalam perjalanan pulang. Lirik dan nada pun mengalun perlahan. Dan ingin rasanya menghentikan laju rotasi bumi. Biar waktu beristirahat sejenak di sini. Barangkali ia lelah menjadi penanda peristiwa bagi manusia. Hingga terciptalah jeda, dimana rasa sedang mengisi udara.

“…berdua di antara kata yang tak terucap”

Ia yang mencipta dan menyematkan di hati umatNya. Tuhan pun tahu ini namanya apa. Lalu hanya bisa tunduk tersenyum, menyuarakan syukur dan tak lupa doa, semoga baik jalannya.

Nov 3, 2012

Monsieur Lazhar (2011)


"Don't try to find meaning in death, because there isn't one."



Suatu Kamis pagi yang tidak biasa bagi Simon (Émilien Néron), ketika ia harus melihat insiden di ruang kelasnya yang tampak dari celah pintu. Dan sekeranjang susu yang ia bawa pun terjatuh begitu saja. Kaget, bingung, gamang, ia berlari. Alice (Sophie Nélisse) pun nekat diam-diam melongok ke pintu kelasnya, bahkan ketika seorang guru menghalau murid-murid untuk melihat insiden tersebut. Lalu dimulailah episode tragedi itu sendiri.

Bashir Lazhar (Mohamed Saïd Fellag) datang tiba-tiba ke ruang kepala sekolah. Tanpa panggilan, dengan berbekal informasi yang berasal dari surat kabar, ia menawarkan diri untuk menjadi guru pengganti. “Saya dari Algeria, 19 tahun mengajar", katanya. Hingga akhirnya niatnya terpenuhi. Dan ia pun ditakdirkan untuk bersama anak-anak yang baru saja kehilangan gurunya dengan cara yang mengenaskan.

Kematian, apalagi bunuh diri. Tidak pernah menjadi hal yang mudah bagi siapapun. Seakan bendera hitam dikibarkan di setiap pojok ruangan kelas, suasana berkabung pun tak bisa dihindari. Lazhar sendiri baru saja mengalami tragedi kehilangan seluruh keluarganya dengan cara yang tidak kalah mengenaskan, dan terancam dideportasi kapan saja. Alih-alih berduka, ia mengisi kekosongan dirinya dengan cara menemani murid-muridnya. Diprotes pada awalnya dengan metode mengajar konvensional yang ia anut, namun ia mampu mengangkat keyakinan pada muridnya. Lazhar hadir sebagai pelipur lara dengan caranya. Bahwa adalah suatu hal yang wajar untuk berkabung dan meluapkan kesedihan. “Menangislah, Simon, keras pun tak apa. Itu bukan salahmu.” Kematian bukanlah suatu akhir. The death people lives in your head, because you love them.


Philippe Falardeau menggambarkan ruang kelas sebagai ruang dimana bukan hanya proses belajar mengajar akademis yang terjadi di sana, tapi belajar bagaimana menjalani hidup. Bagaimana guru menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anak, menghadapi dunia dan bersikap baik dengan sesama, memberikan bekal berupa doa dan kasih sayang yang mungkin tak berwujud, namun terasa. Dan ketika kebohongan terpaksa dilakukan demi mengisi kekosongan batin, perpisahan pun harus terjadi, dan Lazhar harus pergi. Paling tidak ia sudah meninggalkan sesuatu di hati anak-anaknya untuk dapat bertahan di dunia, yaitu rasa aman dan cinta.


Oct 30, 2012

mi madre

A little girl, asked where her home was, replied
"where mother is"
- Keith L. Brooks



Love. Patience. Hero. Hug. Pray. Tears. Joy. Soft. Tough. Beautiful. Smile. Guardian. Fulfill. Gift.  
Happy. Blessed. Day. Mom. You. Are. Home. 

Sep 24, 2012

light at the end of the tunnel



"The picture make the person looks so small, alone, and sad. The stars are so bright, but the person no longer enjoys it, why?"

"She's not sad. Alone, yes, but not lonely. She needs hope. Stars are hope. So she stands there, free her mind by staring at the stars. She's smiling, because she realizes that there's always hope out there. Up there."

Ia datang, layaknya hujan yang kemudian turun basahi bumi setelah matahari dengan teriknya menyinari. Kata orang bijak entah di mana, semua ada waktunya. Ketika siang hari, panas, sakit, kering, hingga telapak kakimu mengaduh ketika menginjak tanah, dan rasanya semua adalah omong kosong belaka. Tak ada nyata, hanya fatamorgana.

Lalu lambat laun datanglah senja, yang mengubah kuning terang perlahan menjadi jingga. Ketika sahutan ingatan untuk bersujud diserukan melalui gelombang udara. Dan manusia dalam temponya bergegas pulang. Menuju yang disebut ‘rumah’. Tempat dimana mereka tak perlu jadi siapa-siapa, dimana riasan dan atribut kebesaran tak lagi diperlukan. Pulang. Lalu menuju Tuhan.

Malam. Berada pada suatu ruang dan waktu bernama ‘rumah’. Ketika hingar bingar mulai hilang. Yang ada hanya lapisan terdalam dari diri untuk kemudian dipertemukan dengan sesama penghuni. Seperti ditemani hujan di kala langit lelah akan teriknya matahari, serasa diberkahi. Lalu percakapan pun terjadi. Kabar berita, keluh kesah, pengalaman, cerita bodoh, perasaan kesal-sedih-marah-senang-bukan-kepalang setelah menghadapi dunia pun tumpah ruah pada suatu pertemuan. Iya, pertemuan. Karena ternyata teknologi belum mampu mengalahkan kualitas tatap muka dan suara. Barisan kata dan ekspresi-muka-bulat-kuning-sederhana tak cukup kuat menjadi penggantinya. Bertukar pikiran, perasaan, bahkan gagasan yang seringkali melampaui akal sehat, lalu diakhiri dengan senyuman.

Dan ketika ia pulang, hujan pun mereda. Bintang pun perlahan menampakkan wujudnya, menemani bulan yang tak tentu bentuknya. Lalu aku berlutut sejenak di tepi jendela. Mendongakkan kepala, menatap langit yang tak lagi terik ataupun sama sekali hitam. Terang walaupun tak benderang, titik-titik cahaya pun datang. Mengingatkan bahwa segelap apapun langitmu, selalu ada harapan. Tak peduli dengan jaraknya yang mencapai ratusan tahun cahaya, barisan roket pun tersedia untuk membawamu mengudara.

Aug 30, 2012

groovy morning


Do you believe in magic in a young girl's heart
How the music can free her, whenever it starts
- Lovin’ Spoonful


Morning!
Mm, in a mood for 60’s I guess.
Pop? Not just pop.
Rock? Nah, too loud.
Pop rock? Sounds good.
And a little bit of folk there?
So I listen to


 Yeah, I  believe in the magic of a young girl's soul, 
I believe in the magic of rock and roll
I believe in the magic that can set me free
So, where are we going today?


Come on, pack your bags and we go!
Maybe a week or two there, will be good.
And about the next destination?


HEY HO, OFF WE GO!


Aug 26, 2012

puzzling


attached - detached. 
match on a side, 
but there are still sides left 
to fill with other things in this world