Showing posts with label self. Show all posts
Showing posts with label self. Show all posts

Aug 25, 2016

kembali menjejak

“Grown-ups never understand anything by themselves, and it is tiresome for children to be always and forever explaining things to them.” 
 Antoine de Saint-ExupĂ©ry


Di ujung senja, secangkir coklat hangat dan Marvin Gaye menemaniku sembari menunggu pujaan hati tiba. Tak terasa sudah 2 tahun lebih aku tak mengisi halaman pribadi, baik dengan kata maupun sekadar coretan belaka. Terpicu oleh kegiatan bersama teman-teman tentang proses pembuatan cerita, aku pun kembali tergerak untuk menyapa kembali  rutinitas yang dulu menghiasi hari-hari : bercerita dan membuat sketsa.

Kemarin, di sore hari yang indah, kami mengembangkan sayap imajinasi dan menuangkannya dalam bentuk cerita dan gambar. Idenya sederhana, tentang persahabatan antar tumbuhan. Namun yang menarik dan menyenangkan justru ketika tujuh kepala orang dewasa disatukan untuk membuat satu cerita untuk anak. Beberapa kali kami merasa, kami berpikir terlalu rumit. Pada kenyataannya, dunia anak kadang berjalan begitu sempurna dalam kesederhanaannya. Saat kami pun akhirnya menemukan titik temu, jalinan kata penuh makna dan goresan warna pun mengalir begitu saja. 

Kami pun berbagi peran dan mengisi lembaran-lembaran kosong dengan penuh sukacita. Sesekali melihat teman sebelah untuk menyelaraskan 'nafas' pada karya bersama. Alunan lirik dan nada pun terbersit dan kami nyanyikan bersama, sesuai dengan tema cerita. Hingga pada akhirnya, kami menyatukan karya kami hingga membentuk rangkaian cerita. Betapa sederhananya kata-kata yang kami tuliskan di sana. Tanpa ragu, kami pun banyak bertutur lewat goresan penuh warna. 

Saat itu, aku pun seperti kembali diingatkan.

Kadang, tak perlu banyak kata untuk bicara. 


Jan 3, 2014

the everything




"Sometimes I feel like I can't even sing. I'm very scared for this world. I'm very scared for me. Eviscerate your memory.

Here's a scene. 
You're in the back seat laying down, the windows wrap around to sound of the travel and the engine. 
All you hear is time stand still in travel, and feel such peace and absolute. 
The stillness still that doesn't end, but slowly drifts into sleep. 
The stars are greatest thing you've ever seen, and they're there for you. 
For you alone,
You are the everything."

- R.E.M

Oct 28, 2013

voor moeder

woman, I can hardly express 
my mixed emotions and my thoughtlessness
after all, I'm forever in your debt
and woman, I will try to express my inner feelings and thankfulness
for showing me the meaning of success

Ketika sendiri dalam perjalanan meninggalkan rumah. Nyanyian Lennon mengisi penuh ruang dan waktu. Sesaat aku teringat sosoknya, serta percakapan semalam yang masih membekas.

Ia berkata dengan halus. Bahwa segala sesuatu itu sudah ada yang mengatur. Tak usah mempersulit diri sendiri dengan hal kecil, yang seakan-akan suatu saat bisa meruntuhkan duniamu. Seberat apapun masalahmu, santai saja. Jangan lupa berdoa. Berbuat baik pada sesama, niscaya akan dipermudah jalannya. Jangan pernah berburuk sangka. Manusia bukan Tuhan yang tanpa cela.

Aku masih ingat peluk ciumku padanya. Ia perempuan paling cantik dan kuat sedunia. Dengan segala hal yang diperjuangkan, ia tak pernah, sekalipun tak pernah, berkeluh kesah dengan hidup yang tak mudah. Baginya dunia terlalu indah untuk diisi dengan tangis sedih dan air mata. Tersenyum saja, dan tularkan senyummu, Tuhan tak pernah lupa akan umatNya.


Selamat ulang tahun Ibun,
so let me tell you again and again and again 
I love you, now and forever

Jul 22, 2013

me and you vs the world

Soul mate is, your other half. The person who completes you. The person who makes you feel over and over again like you have butterflies. They don’t like you, they love you. Not the person you can spend the rest of your life with, but the person you can’t spend the rest of your life without.
(Anonymous)


Konon menurut Plato dan Aristophanes, manusia awalnya diciptakan bertangan empat, berkaki empat, berkepala satu, dan bermuka dua. Terdiri dari laki-laki, perempuan, dan androgyny. Laki-laki merupakan anak-anak matahari, perempuan anak-anak bumi,  dan  androgyny lahir di antara matahari dan bumi, menjadi keturunan bulan. Saat itu, manusia memiliki kekuatan yang maha dashyat sehingga mengancam kekuasaan dewa. Awalnya manusia ingin dihancurkan, namun dewa akan kehilangan penyembahnya. Lalu Zeus memutuskan untuk membelah mereka menjadi dua. Setiap manusia hanya memiliki satu alat kelamin, dan akan terus mencari ‘belahan’nya. Jika mereka saling bertemu, maka akan terjadi ‘kesepahaman tanpa kata’, merasa dipersatukan, dan senang luar biasa.

Sebelumnya di Mesir, legenda Osiris dan Isis. Dikandung dalam satu rahim, dilahirkan sebagai kembar, diceritakan kemudian jatuh cinta. Baik konsep Plato maupun Osiris, keduanya mitos yang telah dipercaya ribuan tahun lamanya. Lalu menurut agama, sejak kecil kita diceritakan mengenai Nabi Adam AS, dan Hawa yang diciptakan dari sepotong iganya. Teman baik saya pernah memberikan wacana, “Mengapa iga?”. Bukan kepala, karena tak dimaksudkan untuk mengepalai laki-laki. Bukan pula kaki, karena tidak untuk direndahkan dan diinjak. Tapi iga, karena dekat dengan hati.

Orang dulu berkata, “Mirip, tandanya jodoh”. Boleh percaya atau tidak, tapi bisa saja dijadikan masuk akal, kalau mau. Wajar saja kalau berparas serupa diyakini tandanya jodoh. Plato bilang, awalnya satu tubuh. Osiris dan Isis pun satu rahim, Hawa berasal dari bagian tubuh Adam. Jika mirip, maka jodoh? Atau jika jodoh, maka mirip? Rasanya seperti pertanyaan lebih dulu ayam atau telur.

Pernah merasakan berinteraksi dengan ‘seseorang’ yang memiliki ‘kesepahaman tanpa kata’? Tak usah banyak bicara, ia tahu yang kita maksud. Tanpa banyak tanya, ia sudah tahu arahnya. Soal selera, biasanya pun tak jauh berbeda. Tak ada manusia yang persis sama, tapi seakan kau pun tak keberatan dan dibuat sakit kepala dengan kemungkinan adanya perdebatan. Lempar satu wacana, dan waktu pun seakan mengalir dengan cepat. Rasanya terjadi proses kohesi antar tubuh dan seisi kepala. Mengacu pada James Redfield di Celestine Prophecy, semacam ada garis-garis energi yang bergerak mondar-mandir mengisi ruang. Semacam pembicaraan yang kemudian mengiyakan, karena ia mengucapkan kata-kata yang telah hadir di kepala.


Mungkin seperti melihat dunia dari kacamata 3D. Sebelah merah, sebelah biru. Namun jika dipakai bersamaan, yang terlihat adalah perspektif dalam dimensi baru. Ada kedalaman dan lapisan-lapisan ide serta rasa yang muncul bersahutan. Ada sensasi keterlibatan yang lebih ketika fungsi indera dimaksimalkan. Seperti menemukan kejutan demi kejutan makna di balik objek fana. Lalu dunia seakan melebur, terikat dalam satu pikiran, perasaan, tindakan. ‘Seseorang’nya saya berkata, “It’s like me and you versus the world”. Lagi-lagi mengiyakan. Ia tahu persis isi kepala, dan tentu saja, hati saya. Alhamdulillah.

May 21, 2013

nokturnal


Tadi malam rasanya aku terbang. Belum lama ia pamit dan menutup hari. Mataku tertutup dalam tubuh yang berbaring. Perlahan nafas menemukan irama. Lalu mengalun. Wajahnya muncul dalam asap ribuan warna. Samar. Seperti dalam ruangan yang beraroma rindu. Rasa-rasanya ada musik yang terdengar. Merdu seperti nyanyian burung gereja. Disertai rintik pada suasana. Persis adegan film drama romantis remaja.

Ketika raga dalam jeda, mungkin alam bawah sadar berbicara. Ada skenario yang ditulis selama terjaga. Seluruh indera bekerja menerima rangsang. Rambut ikal hitam legam. Tubuh tinggi melindungi. Kulit putih rumahan. Matanya seteduh hujan. Memerangkap setiap gerak. Hidungnya nyaris sempurna. Hanya kadang jerawat usil datang di tepi. Jemarinya panjang. Kerap menuangkan barisan kata dalam pikiran.

Periode terlelap hadir. Aku tak pernah lupa setiap inci cerita. Ada senyum tersibak dalam jejak ingatan. Sederhana, namun menancap seperti akar pohon tua.

Tadi malam rasanya aku terbang. Tapi tak seorang. Ada genggaman tanganmu menyerta.

Apr 25, 2013

kolosal maksimal




We're just a million little Gods causin' rain storms turnin' every good thing to rust!”
– Arcade Fire, Wake Up

Manusia. Makhluk dengan segala kehebatan indera dan akal yang ada di setiap inci tubuhnya. Kata Darwin, evolusi terjadi. Dari postur bungkuk dan berambut layaknya primata, hingga menjadi manusia tegak dan rupawan. Homo sapiens. Tercipta dari miliaran sel aktif yang terus melakukan regenerasi, terkumpul dalam suatu bentuk berupa jaringan, lalu menjadi organ yang berfungsi dalam sistem menjadi suatu orkestra yang begitu rapi dan terpola, diberikan otak sebagai pusat dari segala pemikiran dan perilaku, hingga sinkronisasi pun tercipta tanpa cela. Tubuh. Dalam wujud yang paling sempurna.

Lalu rasa diberikan sebagai penyeimbang logika. Ketika emosi pun muncul sejak membuka mata dan keluar dari rahim bunda. Menangis, seringkali menjadi penanda adanya kehidupan baru pada tubuh yang baru saja tiba di dunia. Air mata diciptakan sebagai bentuk penyerahan manusia pada rasa. Sedih maka menangis. Senang maka menangis. Wajah diciptakan sedemikian rupa sebagai media ekspresi emosi. Setiap bagian tubuh memiliki peran dan mekanisme sebagai pelindung dan penindak. Kelima indera bekerja dengan masing-masing perannya dalam menerima dan membalas respon dunia atas diri. Melalui jalur persepsi, interpretasi, kontemplasi, lalu reaksi.

Lalu diciptakan pula bumi. Bumi dan alam semesta. Disertai dengan air, udara, tanah, api, dan segala unsurnya. Konon tercipta dalam waktu jutaan bahkan milyaran tahun hingga sampai pada tahap ‘layak huni’. Dengan akal dan tubuh yang diberikan, serta menggunakan unsur-unsur yang disediakan, manusia beranjak membuat kondisi yang lebih nyaman. Dimulailah era peradaban. Ketika manusia melakukan manipulasi atas dunia.

Hasrat. Yang memanusiakan manusia, yang membedakan dari malaikat. Muncul sebagai sosok yang menyala, mewarnai tiap pribadi dengan spektrum yang berbeda, menimbulkan keinginan, memberikan percikan gairah, hingga terkadang membutakan. Bahwa ada kekuatan yang seringkali tak terbendung dalam diri, sampai merasa berhak memanipulasi dunia dan menundukkan manusia lainnya. Merasa Tuhan.

Manusia, bentuk kolosal maksimal dari kesempurnaan ciptaan. Merasa tak berujung dan berbatas. Namun sudah tertulis. Maktub. Bahwa ada masanya binasa. Dari, untuk, oleh manusia.

Mar 20, 2013

ad-din

“I searched for God and found only myself.
I searched for myself and found only God.”
- Rumi



Terjaga hingga ujung dini hari, lalu mendengar muadzin bernyanyi. Ketika bicara tentang Tuhan, ada di mana?

Ia yang tak berwujud, namun Maha Besar. Berpusat di setiap mahkluk, mengisi setiap pojok ruang semesta. Ia memenuhi udara, tak hanya di atas kita. Tak patut hanya ditakuti, tapi dicintai. Karena tak dihindari, namun diraih dan disimpan baik-baik dalam hati. Lebih daripada keluarga, kekasih, dan sahabat. Tak akan ada mereka kalau tak ada Pencipta.

Lalu ketika bicara agama, maka timbul wacana tentang tata cara, yang tertulis dalam sebuah buku sepanjang masa bernama kitab. Sembahyang, sebagai salah satunya. Menghadap kiblat, mengucap niat, mengangkat tangan sambil menyebut Maha Besar, membaca surat, mengucap pujian dan salam, hingga menyapa Malaikat yang mencatat segala perbuatan. Tanda penyerahan, dalam pertemuan. Karena yang diminta tak hanya sekadar ritual penyembahan berupa sederetan gerakan dan bacaan.

Aku pernah diingatkan,
Pahami betul setiap kata yang kamu ucapkan ketika sembahyang. Tuhan tak hanya mengenal satu bahasa.
Rasanya Ia paham segala makna, yang disampaikan dengan segala kata. Mungkin tak seperti ketika berbicara dengan sesama manusia. Berucap sambil menatap, didengar, lalu direspon saat itu juga.

Ia bekerja dengan caraNya.

Kadang secara tak sadar, kami menutup indera untuk jawaban yang tak diinginkan. Memohon sesuatu seakan-akan kami yang paling tahu, dan paling benar. Kadang lupa, ada yang Maha Tahu dan Maha Benar. Bukan tidak diberi jawaban, mungkin belum. Bukan diacuhkan, mungkin kami yang tidak peka. Membaca tanda. Rasanya perlu dilakukan ketika meminta.

Meminta diberikan apa yang Ia kehendaki.

Cukup, memang. Seharusnya tidak pernah meminta lebih daripada jatahnya. Dan seharusnya dua arah, maaf Tuhan, kadang  aku lupa. Mereka bilang, cinta tak hanya meminta, tapi juga memberi. Selain sebagai khalifah, kodrat manusia diciptakan untuk menyembah. Mengucap terima kasih banyak atas semua yang diberi. Meletakkan ujung dahi pada titik terendah tubuh, dan mengucap,
Maha Suci, Tuhanku, Yang Maha Luhur, dan aku memujiMu”.

Jan 18, 2013

pengantar hujan




dan ketika ia datang, 
biarkan aku mengantarnya pulang, 
dengan tenang

bandung, 7 jan '10



beyond words




You should date a girl who reads.

Date a girl who reads. Date a girl who spends her money on books instead of clothes, who has problems with closet space because she has too many books. Date a girl who has a list of books she wants to read, who has had a library card since she was twelve.


Find a girl who reads. You’ll know that she does because she will always have an unread book in her bag. She’s the one lovingly looking over the shelves in the bookstore, the one who quietly cries out when she has found the book she wants. You see that weird chick sniffing the pages of an old book in a secondhand book shop? That’s the reader. They can never resist smelling the pages, especially when they are yellow and worn.


She’s the girl reading while waiting in that coffee shop down the street. If you take a peek at her mug, the non-dairy creamer is floating on top because she’s kind of engrossed already. Lost in a world of the author’s making. Sit down. She might give you a glare, as most girls who read do not like to be interrupted. Ask her if she likes the book.

Jan 6, 2013

like sister, like sister


An older sister helps one remain half child, half woman. 

~Anonymous


Kakak saya..
Setia mendengarkan keluh kesah si adik yang masih hijau di dunianya. Menyediakan tangan dan bahu untuk disandarkan kepala ketika tangis melanda. Kenal betul adiknya. Tak bosan memberi nama panggilan. Mampu membuat si adik mengakui, bahwa jauh di dalam hatinya, ia tidaklah sekuat yang ia kira sekaligus bangga.

Love you, dear sist. Always.

Sep 24, 2012

light at the end of the tunnel



"The picture make the person looks so small, alone, and sad. The stars are so bright, but the person no longer enjoys it, why?"

"She's not sad. Alone, yes, but not lonely. She needs hope. Stars are hope. So she stands there, free her mind by staring at the stars. She's smiling, because she realizes that there's always hope out there. Up there."

Ia datang, layaknya hujan yang kemudian turun basahi bumi setelah matahari dengan teriknya menyinari. Kata orang bijak entah di mana, semua ada waktunya. Ketika siang hari, panas, sakit, kering, hingga telapak kakimu mengaduh ketika menginjak tanah, dan rasanya semua adalah omong kosong belaka. Tak ada nyata, hanya fatamorgana.

Lalu lambat laun datanglah senja, yang mengubah kuning terang perlahan menjadi jingga. Ketika sahutan ingatan untuk bersujud diserukan melalui gelombang udara. Dan manusia dalam temponya bergegas pulang. Menuju yang disebut ‘rumah’. Tempat dimana mereka tak perlu jadi siapa-siapa, dimana riasan dan atribut kebesaran tak lagi diperlukan. Pulang. Lalu menuju Tuhan.

Malam. Berada pada suatu ruang dan waktu bernama ‘rumah’. Ketika hingar bingar mulai hilang. Yang ada hanya lapisan terdalam dari diri untuk kemudian dipertemukan dengan sesama penghuni. Seperti ditemani hujan di kala langit lelah akan teriknya matahari, serasa diberkahi. Lalu percakapan pun terjadi. Kabar berita, keluh kesah, pengalaman, cerita bodoh, perasaan kesal-sedih-marah-senang-bukan-kepalang setelah menghadapi dunia pun tumpah ruah pada suatu pertemuan. Iya, pertemuan. Karena ternyata teknologi belum mampu mengalahkan kualitas tatap muka dan suara. Barisan kata dan ekspresi-muka-bulat-kuning-sederhana tak cukup kuat menjadi penggantinya. Bertukar pikiran, perasaan, bahkan gagasan yang seringkali melampaui akal sehat, lalu diakhiri dengan senyuman.

Dan ketika ia pulang, hujan pun mereda. Bintang pun perlahan menampakkan wujudnya, menemani bulan yang tak tentu bentuknya. Lalu aku berlutut sejenak di tepi jendela. Mendongakkan kepala, menatap langit yang tak lagi terik ataupun sama sekali hitam. Terang walaupun tak benderang, titik-titik cahaya pun datang. Mengingatkan bahwa segelap apapun langitmu, selalu ada harapan. Tak peduli dengan jaraknya yang mencapai ratusan tahun cahaya, barisan roket pun tersedia untuk membawamu mengudara.

Aug 28, 2012

meraban

"So why am I writing to the moon?"- Sondre Lerche

Barangkali karena tak ada manusia di sekitar, lalu jadilah racauan. Hey kalian di sana, sedang sibuk apa? Mengapa manusia berjalan dengan kakinya yang berjumlah dua? Kenapa tidak meloncat atau terbang saja biar lekas sampai ke tujuan? Lalu kenapa pula matanya dua? Padahal jika matanya banyak seperti para alien di layar kaca, bisa jadi tidak ada pasien untuk dokter mata. Dan teknologi lasik pun mungkin tidak akan tercipta. Atau mungkin saja tercipta, tapi bukan untuk mata, tapi untuk para jerawat atau noda centil di muka para sosialita.

Kenapa pula langit biru warnanya? Eh namun bisa menjadi jingga, putih, abu-abu, hingga hitam. Ya sudah, tidak jadi bertanya. Skip. Yang lain saja. Lalu mengapa jendela diciptakan dengan lubang di tengahnya? Lalu dilengkapi dengan engsel dan kaca yang bisa ditutup ketika malam atau sang tuan rumah sedang tak di tempat? Di sini, engsel rusak, pemirsa. Jadi digantikan oleh sikat gigi tua yang rupanya sudah tak sedap dipandang mata pastinya.

Mengapa disebut tanah? Yang dipijak dan menjadi tempat hidup makhluk hidup yang disebut tumbuhan? Lalu mengapa disebutnya tuan tanah? Padahal kan tanah tidak bertuan, itu punya Tuhan.

Mengapa banyak sekali spesies yang ada? Bahasa latin saja sudah sulit, apalagi harus digunakan untuk nama mereka. Kasihan kan para siswa SMA, mahasiswa, dan guru Biologi yang harus menghafalkan sekian banyak kombinasi kata demi sebuah nama dan nilai tinta hitam.

Lalu apakah ada bulan? Sebentar, karena jendela diciptakan berlubang, saya melihat dulu ke luar kamar kosan. Menjelang purnama rupanya, tapi masih tiga perempat lingkaran, belum sempurna. Bagus ya, ada bayangan kelincinya. Saya suka, tapi leher saya bisa sakit lama-lama melihat ke atas langit. Daripada saya dibilang gila, menulis saja untukmu ya, Bulan. Cepatlah membentuk lingkaran, sudah ada manusia yang mau jadi serigala dimanapun ia berada. Tapi jangan jadi jahat, manusia serigala. Tuhan Maha Baik, menciptakan makhluk yang baik-baik. Pakai baju lebaran saya saja, yang berwarna merah muda berenda manis manja. Mau ya ya ya?

Aug 20, 2012

fly to the sky!

"What does it feel like when you're dancing?"
"Don't know. Sorta feels good. Sorta stiff and that, but once I get going, then I like, forget everything. And, sorta disappear. Sorta disappear. Like I feel a change in my whole body. And I've got this fire in my body. I'm just there. Flyin' like a bird. Like electricity. Yeah, like electricity." 
(Billy Elliot)



We are condemned to be free, aren't we?

Aug 11, 2012

divine



“God has no religion”
- Mahatma Gandhi

Percakapan pada beberapa malam tenang bersama pembaca semesta. Bahwa manusia, iya tidak sepenuhnya berkuasa. Bahwa ada Tuhan, iya yang Maha Kuasa. Bahwa selanjutnya keyakinan dikotak-kotakkan, namanya menjadi agama. Ya ya ya.

Satu, saya yakin. Dua, betul diyakini. Lalu, tiga, menjadi keyakinan. Bagaimanapun prosesnya pada setiap manusia, pasti berbeda dan tidak terjadi lebih cepat daripada kedipan mata. Dan ketika pada akhirnya suatu keyakinan itu dipersalahkan karena tidak sesuai dengan keyakinan satu golongan atau kelompok, salah?

Mereka berseru bahwa Tuhan itu hanya satu. Oke, satu Tuhannya, bukan satu caranya. Lalu mengapa jadi masalah ketika caranya berbeda? Apakah karena manusia dibekali akal pikiran dan perasaan adidaya yang berlebihan sehingga merasa berhak menentukan cara manusia lainnya berhubungan dengan Tuhan?

Siapa kamu?
Siapa saya?
Siapa kita, dihadapNya?

Bahwa ada nilai-nilai luhur dibalik ajaran, saya paham. Namun ketika nilai-nilai yang diejawantahkan dalam bentuk aturan, hadis, atau apapun namanya, diaplikasikan dengan tidak berdasar pada kepentingan manusia lain, apakah masih luhur namanya? Katanya hablum minallah wa hablum minannas. Vertikal dan horizontal. Mungkin tidak hanya sebatas pada seberapa banyak doa yang diucap, atau seberapa banyak rakaat shalat sunat yang dilakukan, tapi lebih kepada seberapa besar niatnya dan sedalam apa maknanya. Nampaknya akan jadi percuma jika kalimat-kalimat yang terdapat dalam kitab berhenti pada taraf ‘sudah dibaca’. Iya, sudah dibaca, lalu? Sepertinya yang diminta tidak hanya untuk dibaca, tapi dilakukan. Dan saya yakin, konteksnya pun sangat beragam. Tidak hitam putih, bahkan ahli kitab pun mengatakan bahwa ayat itu multi interpretatif. Nampaknya juga bukan hak si umat untuk mencap bahwa ini ‘benar’ atau ini ‘salah’ dalam prakteknya. Pun sampai saat ini, yang digunakan sebagai standar ‘benar’ adalah ‘sesuai dengan cara kami’, dan yang ‘salah’ adalah ‘tidak sama dengan cara kami’. Lalu sampai pada, yang ‘benar’ akan masuk surga dan yang ‘salah’ akan ke neraka.

Siapa kamu?
Siapa saya?
Siapa kita, dihadapNya?

Pada akhirnya, mungkin lebih baik duduk menenang sesaat, menghadap dan bertanya, daripada ribut mengurusi cara manusia lain berdoa. Entahlah, rasanya kita tak berukuran lebih besar daripada debu dalam alam semesta.

try to realize it’s all within yourself no one else can make you change,
and to see you’re really only very small and life flows on,
within you and without you
- The Beatles 

Aug 10, 2012

ch, ch, ch, changes!


Dan sebenarnya kami dinamis. Tak statis seperti layaknya kalender gantung tua. Bergerak. Pertanda hidup. Bernafas pun bergerak. Di kala sistem organmu bekerja sedemikian keras agar raga tetap hidup, jiwa pun seakan tak mau kalah.

Dulu boleh bodoh, sekarang tak pantas lagi. Dulu sulit melupakan kesedihan. Terkadang tenggelam dalam penyesalan. Sekarang bukan waktunya lagi berada di sana. Dulu sempat jatuh sampai berdarah. Menangis tersedu-sedu saking terasa sakitnya. Sekarang sudah bisa lari kembali.

Belajar..
Mengambil hikmah dan pesan..
Berubah.

Awalnya perubahan bisa di'alami' oleh panca indera. Dapat dilihat, didengar, dikecap, dicium, dan disentuh. Dulu hitam, sekarang putih. Terlihat. Dulu sumbang, sekarang merdu. Terdengar. Dulu pahit, sekarang manis. Terkecap. Dulu busuk, sekarang harum. Tercium. Dulu kasar, sekarang halus. Tersentuh. 

Namun ternyata tak berhenti sampai di sana. Sinyal-sinyal yang terkirim ke otak meneruskan derap langkahnya sampai ke hati. Pelan, perlahan.. Sampai akhirnya te'rasa'. Ketika kami resah, gelisah, dan menarik nafas secara teratur.. Satu.. Buang.. Dua.. Buang.. Hingga denyut jantung pun tenang.. Jernih rasanya.

Dan ketika sudah jernih, maka percayalah, kau pun akan kagum dengan dirimu. Jujur. Apa adanya. Tak manipulatif. Karena kau sudah yakin akan dirimu yang baru. 

Memang tak semudah itu perubahan bisa dilakukan. Tapi, hey, hewan saja mampu bermetamorfosa. Berubah bentuk pada tahap-tahap tertentu demi kelangsungan generasi berikutnya. Bagaimana denganmu? Makhluk yang katanya diberi kelebihan akal pikiran oleh Yang Maha Kuasa? Tak lelah diam dan jalan di tempat?

badly drawn boy





and if you turn up the dream

to cure yourself free

from searching for a new afterlife

the purpose of life



stop waiting for the summertime

in wintertime, that can't be right

don't subscribe to this jive

like waiting for the summertime in winter

(Damon Gough)

Sep 16, 2011

meng-abu

Ia datang perlahan. Mengisi setiap rongga udara kosong yg ada. Pelan tanpa paksaan, ia menutupi pandangan. 

Nyala surya tak lagi seterik murka. Meredup, mungkin waktunya merenung. Bau rumput dan tanah basah menemani titik hujan centil. Seakan menggoda, tak padam tapi juga tak deras. 

Kabut datang tak seperti cinta pada pandangan pertama. Tak menggebu dan mempesona seakan penuh cahaya. Tak sesaat dan memabukkan insannya. Ia tenang, namun perlahan membutakan. Seperti menyihir para penghirup udara dengan mantra. Lalu putih terang pun menjadi abu kelabu. Terik murka pun meredup. 

Ia hidup. 

bdg-jkt, senja, km 75

Jul 24, 2010

si penari




konon, tiap manusia mempunyai 4 penjaga di tiap di sudutnya
maka menarilah dengan bebas, gadis 
kau berkuasa atas tubuhmu dan gerakmu,
 penuh.

Jul 22, 2010

lari cari matahari





cuaca dingin. langit gelap. petir pun tak henti menyambar langit seakan langit bersalah. dan hujan turun dengan deras. langkah kaki kecilku berderap. setengah tubuhku sudah basah seperti tanah yang dibasahi oleh hujan.

hujan makin deras. tubuhku kini sudah terbalut air hujan. pohon pun mendekat, ingin merengkuh memberi perlindungan. tapi aku menjauh. lariku semakin kencang.

aku ingin berlari di atas genangan. yang kencang, hingga airnya terpercik sampai ke muka. aku ingin melepas alas kakiku. membuat jejak yang dalam pada setiap tapakku.

"hh.. hh..
aku cuma ingin lari.
lari, sebentar saja mencari matahari.
."

Oct 10, 2009

telak


Ada yang terhunus namun tetap jinak : waktu.

- Puthut EA, Sebuah Kitab yang Tak Suci


Siapa terhunus? 
Siapa menghunus? 
Ketika hunusan itu tertancap persis di bagian tengah dadanya, ia meringis. 
Sakit.

Kali ini waktu tak jinak. 
Ia liar. 
Menghujam dan mengutus anak buahnya mencari korban penantian. 
Mengeluarkan tangan-tangan ajaibnya. 
Ia menjamah setiap ingatan yang ada di kepala.

"Mati. Bunuh saja lah. Ia tak ingin dihidupkan lagi."

Lalu.. pecah!
Tangisnya pecah dalam kelam. Dan waktu tertawa terbahak. Kali ini ia menang. Telak.