Showing posts with label movie. Show all posts
Showing posts with label movie. Show all posts

Jun 27, 2014

Ernest and Célestine (2012)

“But a bear and a mouse, it’s just not…”
“Not what? Not seemly? Not proper? Bears up above and mice down below?”



Célestine menorehkan pensil di atas kertas gambarnya, membuat sosok seekor beruang dan tikus yang sedang senyum berhadapan. Menjelang ujung malam, di sebuah kamar tidur panti asuhan. “Tak mungkin!”, kata mereka. Beruang adalah hewan yang besar, ganas, buas, kelaparan! Tidak hanya memakan satu tikus, atau sepuluh, bahkan ratusan! Mustahil untuk selamat ketika bertemu dengan beruang.

Di sebuah rumah yang berada di puncak bukit, butiran salju membangunkan Ernest dari masa hibernasi. Ia berjalan setengah sadar, membuka satu persatu panci dan toples yang penuh debu. Nihil. Hanya ada sedikit remah roti yang tersisa. Beberapa ekor burung hinggap dan menyambut sisa makanan yang ia punya. Usahanya untuk menangkap burung tersebut: Nihil. AARGH! Ia lapaar!! Ernest pun beranjak dari rumahnya, berbekal seperangkat alat musik ke taman kota.

Gigi seri dan makanan. Dua hal yang mempertemukan Ernest dan Célestine. Di depan sebuah toko permen yang berseberangan dengan toko gigi, keduanya melakukan transaksi dan memulai hubungan pertemanan mutualisme. Partner in crime. Ernest kelaparan, dan Célestine membutuhkan gigi seri. Untuk apa?

Menggambar dan bermusik. Nampaknya sulit menjanjikan penghidupan di tengah masyarakat urban. Tak seperti dokter gigi dan pengacara. Seni seakan-akan hanya ditakdirkan sebagai bentuk ekspresi, bukan jalur profesi. Berbisnis dengan segala manipulasi yang terdapat di dalamnya pun lebih diterima dan dianggap legal. Seperti yang dilakukan oleh salah satu keluarga Beruang. Sang ayah menjual permen kepada anak-anak kecil, agar gigi mereka rusak, dan membeli gigi di toko yang dimiliki oleh sang ibu.

Akibat merampok di kedua toko tersebut, Ernest dan Célestine pun menjadi buronan, baik di ‘dunia atas’ tempat para beruang tinggal, maupun ‘dunia bawah’ di mana tikus-tikus berada. Keduanya hidup bersama di puncak bukit. Ernest bernyanyi sepuasnya, Célestine menggambar sesukanya. Rumah yang memberi mereka ruang untuk menjadi berbeda. Namun kemudian keduanya pun tertangkap dan diadili dengan tuduhan menakut-nakuti.

Masyarakat kota, dengan segala homogenitas peradaban yang menyertainya, kini nampaknya tumbuh dan berkembang menjadi hakim yang picik. Nomotetis, bukan idiografis. Mereka yang dengan mudahnya melabeli abnormalitas sebagai suatu bentuk kesalahan dan patut mendapat hukuman.

Diadaptasi dari serial buku karangan Gabrielle Vincent. Manis, sekaligus kritis. Pada akhirnya, siapa kita untuk menilai? 


Jan 30, 2014

Her (2013)

"She's no just a computer."

Katakan kepada saya jika ada laki-laki yang lebih romantis daripada Theodore. Pekerjaan: penulis surat cinta. Mewakili isi hati terindah manusia dengan rangkaian kata, ia mampu memicu percikan dalam hati mereka. Memuji sinaran mata, senyuman indah, bahkan deretan gigi kecil yang menghiasi tawa. Siapa yang tak luluh lantak dibuatnya?

Namun ternyata cinta baginya tak seindah kata yang ia ciptakan, sebelum akhirnya ia 'bertemu' dengan Samantha. Dengan suaranya, Samantha datang dan berkembang dalam kisah hidup Theodore. 24/7. Ia membuka hari dengan sapaan selamat pagi, mendengarkan segala keluh kesah, menanggapi dengan hangat, menemani dalam tangis sedih dan bahagia, hingga menutup hari dengan ucapan selamat malam nan mesra. 

Cinta pada era masa depan. Ketika kehadiran tubuh aktual tergantikan oleh pendar layar dan melodi suara perangkat artifisial. Menciptakan peradaban, manusia perlahan menjadikan dirinya penguasa alam semesta. Namun ironisnya, cinta masih menjadi kebutuhan dasar. Manusiawi. 

Spike Jonze menyajikan dunia berbunga-bunga Theodore melalui serangkaian gambar yang minimalis namun luar biasa manis. Layaknya cintamu pada pasangan, sederhana tapi mendasar. Perlahan hadir, semerbak meruak, menetap, hingga akhirnya tanpa mengenal dimensi ruang dan waktu, ia mengendap.


"It's a dark and shiny place

But with you my dear
I'm safe and we're a million miles away.."

Oct 4, 2013

What Maisie Knew (2012)



“Can I go with you?”

Maisie menatap dunia dengan matanya yang sayu. Baginya hidup seperti mengendarai sepeda roda empatnya mengelilingi beranda rumah. Berputar tak tentu arah. Susanna, sang ibu, seorang vokalis band rock yang labil. Beale, sang ayah, adalah art dealer yang kharismatik, kerap pergi ke luar negeri untuk bekerja. Pertengkaran, adu kata, luapan emosi dan umpatan, hingga akhirnya palu hakim menentukan hak asuh dan pergiliran kunjungan. Di sinilah drama hidup seorang gadis kecil berusia enam tahun dimulai.

Ayah menikah dengan Margo, pengasuh Maisie. Ibu menikah dengan Lincoln, seorang bartender. Dan keluarga menjadi medan perang bagi Maisie. Seperti yang diungkapkan oleh Pat Conroy, “When mom and dad went to war the only prisoners they took were the children.” Terbengkalai, tak tentu dengan siapa dan di mana, Maisie seperti sandera, ditahan namun tak disejahterakan. Konflik tak berhenti sampai di sana. Berada dalam ketidakpastian di antara kedua orangtuanya, Margo dan Lincoln pun mau tak mau ikut berperan serta. Hingga akhirnya, perlahan dunia mencerah dan senyum mulai mengembang di wajah kecil Maisie, dengan cara yang tak disangka.

Kisah What Maisie Knew diadaptasi dari kisah karya Henry James yang ditulis pada tahun 1897. Scott McGehee dan David Siegel mampu menampilkan drama konflik perceraian tanpa bumbu yang berlebih. Menghadirkan miris-hati yang disertai dengan senyum-getir. Menyadarkan, bahwa ‘orang tua’ tak selalu ‘dewasa’. Dan perpisahan dalam suatu pernikahan, mau bagaimana pun juga, tak hanya melibatkan dua manusia yang pernah mengucapkan janji setia.

Aug 21, 2013

before midnight (2013)

"still there.. still there.. still there.. gone."

Jesse dan Celine. Seperti mentari. Sebelum terbit, terbenam, hingga akhirnya, tengah malam. Mulai dari cinta pada pandangan pertama, hilang dan bertemu kembali, hingga sampai pada bentuk cinta yang terikat pada komitmen sebagai pasangan hidup dan orangtua.

Truman Capote berkata, “A conversation is a dialogue, not a monologue. That’s why there are so few good conversations: due to scarcity, two intelligent talkers seldom meet.” Seperti sebelumnya, percakapan menjadi kekuatan dalam film ini. Dinamis, romantis, sekaligus kritis. Kali ini, isu tentang peran gender, disandingkan dengan karakterisasi tokoh yang kuat. Laki-laki tak melulu maskulin, dan perempuan tak selalu feminin. Jesse, penulis yang menceritakan kisah cinta pribadi dalam bukunya. Celine, aktivis lingkungan yang mandiri, tangguh, dan teguh dalam karirnya. Dan semua mengalir dan terangkum dengan sempurna dalam setiap inci adegan. Di dalam mobil, perjamuan makan siang, sepanjang jalan menuju gereja tua, di taman, hingga akhirnya memuncak dan menukik tajam di suatu kamar hotel.

Empat puluhan. Usia dewasa madya nampaknya menjadi fase pembuktian manusia atas tumbukan antara hasrat dan norma yang berlaku, terkait dengan peran gender. Laki-laki, yang katanya terlahir dan dibesarkan untuk memiliki kebanggaan atas diri dan ambisi. Perempuan, yang diciptakan memiliki naluri untuk memikirkan dan mengasuh orang lain. Karier dan rumah tangga seakan menjadi ‘medan tempur’nya. Celine, dengan perasaan layaknya roller coaster. Kesal, menerima sesaat, lalu marah, mendingin, hingga kecewa. Mengeritik dan melampiaskan konflik dalam dirinya kepada Jessie. Menyampaikan segala keluh kesah yang terpendam atas hasrat dan ambisi yang tidak teraktualisasikan akibat tekanan dari norma. Menuding, menyudutkan, seakan tidak memberikan pilihan bagi Jessie untuk memberikan respon pribadi sebagai pasangannya. Bagi Celine, the world is fucked. Hingga akhirnya ia membanting pintu kamarnya dan keluar. 

Namun Richard Linklater tak berhenti sampai di sana. Ketika kata dicipta untuk bercerita, dan menyampaikan rasa. Jesse dan Celine. Seperti mentari. Terbit, terbenam, hingga tepat sebelum tengah malam.

Jul 7, 2013

No (2012)

“Chile, happiness is coming!”



Kebahagiaan untuk hidup sebagai warga negara. Saat itu nampaknya menjadi hal yang mustahil ketika seakan rakyat tidak diberikan pilihan. Chile, Juli 1988. Hidup dalam bayang-bayang kediktatoran selama 15 tahun, akhirnya rakyat menentukan kelanjutan pemerintahan Pinochet : ‘ya’ atau ‘tidak’. Maka dalam 27 hari, 15 menit dalam setiap harinya, kampanye melalui iklan hadir di layar kaca.

Marshall McLuhan mengakui bahwa iklan merupakan bentuk seni terbaik di abad 20an. René Saavedra (Gael García Bernal), seorang konseptor iklan terkemuka menjadi sosok kunci. Jose Tomas Urrutia (Luis Gnecco) sebagai tokoh oposisi menawarkan René untuk menciptakan konsep kampanye bagi kubu ‘No’. Kampanye, pada dasarnya menjual mimpi. Pilihannya, hendak menampilkan iming-iming untuk menghindari ‘pengulangan’ mimpi buruk di masa lalu, atau menggambarkan mimpi indah di masa depan. Sebagai kubu oposisi, sebenarnya sangat mudah untuk menjatuhkan image pemerintahan melalui footage gambar-gambar yang mengerikan dan fakta yang membuat penonton merasa jengah dengan kondisi yang ada. Namun, René dengan cerdas memilih untuk menjual mimpi indah, bernama kebahagiaan.

No tidak hanya berbicara mengenai kebebasan untuk memilih. Tapi bagaimana kebebasan tersebut diketahui dan dilakukan sebagaimana mestinya. Pablo Larraín menampilkan kekuatan iklan sebagai media penggiring persepsi melalui sentuhan emosi. Bahwa persepsi akhirnya diinterpretasi dan disimpan sebagai memori, yang melekat adalah yang diiringi muatan emosi positif kuat. Happiness, joy, delight. Namanya juga media massa. Tidak hanya satu atau dua orang yang digugah. Hasilnya? 54,66% suara.

Apr 16, 2013

Blue Valentine (2010)


“How do you trust your feelings when they can just disappear like that?”


Dua anak muda berusia di akhir belasan, merasakan yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Ketika mata bertemu dan bertanya nama, lalu mencari tahu, menunggu deringan telepon, hingga akhirnya tak sengaja bertemu di gerbong kereta. Makan es krim pinggir jalan dan menari tap dance tengah malam dengan iringan ukulele. Dunia pun sesaat takluk di hadapan mereka. Seakan memperpanjang periode malam agar cinta bertahan pada waktunya. Hingga pada akhirnya buah hati yang belum diharapkan muncul tanpa dikira. Mereka pun memutuskan untuk mengikat janji sehidup semati, for better and worse.

Dan pada fase hidup selanjutnya. Suatu pagi, dan pagi berikutnya, dan berikutnya, Cindy tak lagi merasakan hal yang sama. Kosong. Ia menjalani harinya tanpa perasaan yang dulu dimiliki ketika mereka muda dan duduk di gerbong kereta. Semua menjadi rutinitas belaka. Semestinya tak ada yang salah. Dean, sosok suami dan ayah yang menjadikan Cindy dan Frankie kecil tujuan hidupnya. Namun entah mengapa, bagi Cindy, rasanya hilang begitu saja. Tubuhnya seakan menolak, hatinya tak lagi berkata ia orang yang tepat.  

Derek Cianfrance menampilkan realita cinta dalam kehidupan rumah tangga dengan romantis sekaligus miris. Ketika pada suatu saat sepasang manusia menyerah pada titik jenuh. Api sekecil apapun seakan tersulut oksigen emosi sehingga menjadi ledakan amarah. Pertengkaran pun terus terjadi tanpa kendali. Lalu seakan cinta pun punah tak berjejak pada sejarah.



And they just disappear. Dean and Cindy. Such a bittersweet symphony.

Feb 5, 2013

Amour (2012)

“Things will go on as they have done up until now. They'll go from bad to worse. Things will go on, and then one day it will all be over.”


Seharusnya tidak ada yang berubah pagi itu. Menikmati sarapan telur rebus, berdua di pojok ruangan dengan sinar matahari di jendela. Bercerita tentang kisah hidup yang seakan tidak ada habisnya. Lalu tiba-tiba Anne termenung sesaat. Matanya tak berkedip, tatapan matanya kosong seakan tak ada siapapun di hadapnya.

Dan sejak itu, dunia tak lagi sama bagi Georges dan Anne. Stroke. Tak pernah mudah bagi yang mengalami maupun yang menemani. Cinta pada usia senja, rasanya tak menggebu. Mengendap pada bagian hati yang paling dalam, dan ketika ia menderita, rasanya sebagian tubuhmu pun ikut luka. Georges menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk Anne. Hidup sendiri pada usia 80an sama sekali bukanlah hal yang mudah, apalagi mengurus hidup seseorang yang dicintai dalam kondisi sakit, pada usia yang sama.

Tak cukup sekali, pada serangan stroke kedua, tubuh Anne pun lumpuh separuh. Tak ada lagi denting piano yang dimainkan oleh jarinya. Sulit bicara dan tangannya pun kaku tak berdaya. Tak seorang pun memahami dan mampu melakukan sesuatu yang berarti menurut Georges. Hingga suatu hari, Georges akhirnya menutup lembaran hidup Anne dengan kisah hidupnya. Menyakitkan, tapi atas nama cinta di akhir usia, ia tak mau melihat istrinya hidup lebih menderita.

Michael Haneke menyajikan hubungan antara Georges dan Anne layaknya hidup pada fase lanjut usia. Perlahan, statis, dan bagaimanapun pada akhirnya hidup tak pernah kekal. Satu hal yang ingin saya lakukan begitu film ini berakhir, yaitu memeluk orangtua nun jauh di sana.

Jan 9, 2013

Beasts of the Southern Wild (2012)

The whole universe depends on everything fitting together just right. 
If one piece busts, even the smallest piece, the whole universe will get busted.

Once there was a girl named Hushpuppy, and she lived with her daddy in The Bathtub.
Sorot matanya tajam, lantang menantang dunia. Tegap bahunya disertai dengan busungan dada. Kakinya pun berjejak ketika berjalan. Bukanlah hal yang mudah bagi Hushpuppy, gadis kecil 6 tahun untuk tinggal hanya berdua dengan ayahnya. Tak pernah ada pelukan, kata-kata kasar bertebaran, teriakan, cacian, makian. Tak boleh ada tangisan. Hingga suatu saat ayahnya pergi entah ke mana, dan kembali dalam balutan pakaian dan gelang rumah sakit. Ia marah. Marah dan membakar rumahnya. Tempat dimana memorabilia akan ibunya berada. Sang ayah pun menghampiri dan membentak keras dirinya. Ia pun membalas dengan teriakan dan harapan akan kematian ayahnya pun terucap begitu saja. “I hope you die and when you die, I'll go to your grave and eat birthday cake all by myself!

Dan badai besar pun datang. Dalam semalam, tanah tempat tinggalnya tak lagi terlihat permukaannya. Tertutupi oleh air yang entah datang dari mana saja. Gunung-gunung es mencair, dan sekelompok auroch pun telah bebas dari es yang membeku. Hushpuppy tinggal bersama sekelompok tetangganya, dalam sisa-sisa bangunan yang tak terendam. Berusaha bertahan hidup dengan mengandalkan tangkapan seadanya. Menjelajah daerah asing dengan keempat temannya, dan menemukan seorang sosok ibu, walaupun hanya sesaat. Hingga ketika sang ayah sekarat dan menghembuskan nafas terakhirnya, ia pun tak sanggup lagi menahan air mata sebagaimana biasanya. Sekelompok auroch pun datang menghampiri dirinya. Ia menguat. “Everybody loses the thing that made them. The brave men stay and watch it happen. They don't run.” 


Melalui sudut pandangnya, berada pada tataran maya dan nyata, Hushpuppy menceritakan kisah hidupnya dan bagaimana ia menaklukkan takdirnya hingga mampu berdamai dengan semesta. Bahwa ada jiwa yang besar dalam tubuh kecilnya. Dunia tetap berputar sebagaimana hukum alam tertera. Semua fana. Tempat tinggal, orang-orang terdekat, termasuk ketidakseimbangan situasi yang kerap disebut masalah. Dan Tuhan tak semerta-merta memberikan cobaan. Manusia, konon diciptakan agar menjadi makhluk yang paling sempurna. 

Dec 10, 2012

i + u = us

"Gravitation is not responsible for people falling in love" 
-Albert Einstein



StéphanieI'm not sure I should accept this gift. Why do I deserve a present anyway?
StephaneBecause...for the occasion that you are pretty.


Nov 3, 2012

Monsieur Lazhar (2011)


"Don't try to find meaning in death, because there isn't one."



Suatu Kamis pagi yang tidak biasa bagi Simon (Émilien Néron), ketika ia harus melihat insiden di ruang kelasnya yang tampak dari celah pintu. Dan sekeranjang susu yang ia bawa pun terjatuh begitu saja. Kaget, bingung, gamang, ia berlari. Alice (Sophie Nélisse) pun nekat diam-diam melongok ke pintu kelasnya, bahkan ketika seorang guru menghalau murid-murid untuk melihat insiden tersebut. Lalu dimulailah episode tragedi itu sendiri.

Bashir Lazhar (Mohamed Saïd Fellag) datang tiba-tiba ke ruang kepala sekolah. Tanpa panggilan, dengan berbekal informasi yang berasal dari surat kabar, ia menawarkan diri untuk menjadi guru pengganti. “Saya dari Algeria, 19 tahun mengajar", katanya. Hingga akhirnya niatnya terpenuhi. Dan ia pun ditakdirkan untuk bersama anak-anak yang baru saja kehilangan gurunya dengan cara yang mengenaskan.

Kematian, apalagi bunuh diri. Tidak pernah menjadi hal yang mudah bagi siapapun. Seakan bendera hitam dikibarkan di setiap pojok ruangan kelas, suasana berkabung pun tak bisa dihindari. Lazhar sendiri baru saja mengalami tragedi kehilangan seluruh keluarganya dengan cara yang tidak kalah mengenaskan, dan terancam dideportasi kapan saja. Alih-alih berduka, ia mengisi kekosongan dirinya dengan cara menemani murid-muridnya. Diprotes pada awalnya dengan metode mengajar konvensional yang ia anut, namun ia mampu mengangkat keyakinan pada muridnya. Lazhar hadir sebagai pelipur lara dengan caranya. Bahwa adalah suatu hal yang wajar untuk berkabung dan meluapkan kesedihan. “Menangislah, Simon, keras pun tak apa. Itu bukan salahmu.” Kematian bukanlah suatu akhir. The death people lives in your head, because you love them.


Philippe Falardeau menggambarkan ruang kelas sebagai ruang dimana bukan hanya proses belajar mengajar akademis yang terjadi di sana, tapi belajar bagaimana menjalani hidup. Bagaimana guru menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anak, menghadapi dunia dan bersikap baik dengan sesama, memberikan bekal berupa doa dan kasih sayang yang mungkin tak berwujud, namun terasa. Dan ketika kebohongan terpaksa dilakukan demi mengisi kekosongan batin, perpisahan pun harus terjadi, dan Lazhar harus pergi. Paling tidak ia sudah meninggalkan sesuatu di hati anak-anaknya untuk dapat bertahan di dunia, yaitu rasa aman dan cinta.


Nov 1, 2012

Declaration of War / La Guerre est Déclarée (2011)

“I'm afraid that after, he's traumatized and turned on an autistic.
I'm afraid that he goes blind”

“But if he can go blind, he can go deaf”
“Well, i'm afraid that he goes blind and deaf”
“Well, i'm afraid he goes blind, deaf, and mute”
“Well, i'm afraid he goes blind, deaf, mute, and dwarf”
“Well, i'm afraid he goes blind, deaf, mute, dwarf, and... gay”
“Well, i'm afraid he goes blind, deaf, mute, dwarf, gay, and black”
“Well, i'm afraid he goes blind, deaf, mute, dwarf, gay, black, and vote for the 'national front'.”

 



Roméo (Jérémie Elkaïm) dan, entah apakah bisa disebut suatu kebetulan, Juliette (Valérie Donzelli), bertemu, berkencan, dan pada akhirnya menjalani peran sebagai orangtua. Semua orang tahu, bukanlah hal yang mudah untuk mengasuh anak. Menyenangkan, sekaligus melelahkan. Tangisan yang tak henti, mengira-ngira apa sebabnya, linglung, kikuk, mereka berada pada situasi yang abstrak. Dan ketika si kecil tak berkembang sebagaimana anak seusianya, harus apa?

Kesana kemari, mereka mencari solusi. Muka si kecil yang tak simetris menjadi penanda. Ada sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang tak normal, kata mereka. Lalu bagi mereka dunia pun serasa gegap gempita. Mencari tenaga medis terkemuka dan berusaha yang terbaik demi buah hati mereka. Menghubungi kerabat yang berada di luar kota, berlari kencang mengejar kereta begitu mendapat kabar berita, hingga akhirnya dokter menegakkan diagnosa.

Brain tumor. 
Malignant brain tumor. 

Dan perang pun akhirnya terdeklarasi. Manusia berencana, Tuhan berkuasa. 

Valérie Donzelli mampu meramu isu pengorbanan orangtua demi anak tanpa drama yang berlebih. Tanpa harus menebak lebih jauh, melalui tutur kata visualnya, ini adalah pengalaman pribadinya yang diangkat menjadi cerita.  Dengan Jérémie Elkaïm yang juga mendampingi dalam pembuatan naskah dan penyutradaraan, Donzelli menyuguhkan dinamika konflik yang mampu mengusik hati penonton. “Apa yang akan kau lakukan jika ia adalah anakmu?

Tidak sampai ada titik air mata, adalah senyum satir yang hadir sebagai penggantinya. Because life, is such a tragic comedy. Bahwa hidup terkadang pahit, sudah jalannya. Namun mau sampai kapan diratapi dan tak bergerak dari titik terbawah? It’s always yours to decide

Fight Club (1999)


“...You're not how much money you've got in the bank.  You're not your job. You're not your family, and you're not who you tell yourself.... You're not your name.... You're not your problems.... You're not your age.... You are not your hopes.”

~ Chuck Palahniuk



Jika aku bukanlah uangku, bukan pula pekerjaanku. Bahkan jika aku pun bukan harapanku, lalu siapa aku? Hanyalah seorang lelaki setengah baya pelaku rutinitas. Bangun di pagi hari, melakukan hal yang sama setiap hari, dan menjalani hari yang begitu-begitu saja kata mereka.

Insomnia. Aku marah, tahukah kamu? Karena aku cemas akan pengakuan atas keberadaanku. Ternyata sang cemas datang dalam wujud insomnia. Dan ketika pria dengan keluhan kanker itu datang memelukku, menangis meraung-raung sambil mengusap air matanya di depan wajahku, entah mengapa rasa lega datang dan dengan tenang dapat menutup kedua mataku hingga esok hari.

Namun ternyata tak berhenti sampai di situ. Energi rasa marah yang selama ini diam dan duduk manis, tak lagi bisa dipendam. Dan seseorang menantangku untuk berkelahi. Tanpa pakaian dan tanpa senjata. Tak ada batas waktu. Ia dapat melepaskan tinju ke arah wajahku sepanjang ia mampu dan mau. Puaskah ia? Tentu tidak. Darahku pun tak cukup. Ia meludahi, menghancurkan, membinasakan mereka yang punya kekuatan. Bukan hanya aku. Tapi mereka.

Tapi tolong jangan lakukan itu semua, hai teman. Aku tak bisa sejahat itu. Apa kata mereka nanti jika mereka tahu bahwa malam ini adalah malam terakhir mereka? Memangnya siapa aku? Malaikat pencabut nyawa pun bukan. Tak adil rasanya jika begitu. Jadi jangan salahkan aku jika aku membentakmu, teman. Karena kau salah, dan aku benar! Di mana hati nuranimu?! Masih berteriakkah rasa marahmu kepada dunia di dalam sana?! BILANG KALAU KAU BERANI! AKU BILANG, TERIAKKAN!!


Hilang. Kemana kamu? Pergi begitu saja meninggalkan aku disini dengan peralatan-penuh-dosamu. Lalu mengapa sang perempuan itu berada di sini dengan lelaki itu? Lalu mengapa ia membisikkan sesuatu di telingaku dengan perlahan, “Kamu bukanlah dia. Pergilah, wahai rasa marah. Pergi dan jangan tinggalkan jejakmu di sini. Karena ia bukanlah kau, yang meluap-luap dan merusak.” Mataku terpejam. Dan untuk yang pertama kalinya, aku tertidur dengan tenang.

Aku kembali menjadi aku seutuhnya. Bukan ia, bukan mereka. Bukan si marah, bukan si cemas. Tapi aku yang tak lagi gundah dengan duniaku. Aku yang telah menghela nafas panjang, merasakan geliat bernama damai merasuki hati secara perlahan.

Aug 4, 2012

Extremely Loud & Incredibly Close (2011)



My father died at 9-11. After he died I wouldn't go into his room for a year because it was too hard and it made me want to cry. But one day, I put on heavy boots and went in his room anyway. I miss doing taekwondo with him because it always made me laugh. When I went into his closet, where his clothes and stuff were, I reached up to get his old camera. It spun around and dropped about a hundred stairs, and I broke a blue vase! Inside was a key in an envelope with black written on it and I knew that dad left something somewhere for me that the key opened and I had to find. So I take it to Walt, the locksmith. I give it to Stan, the doorman, who tells me keys can open anything. He gave me the phone book for all the five boroughs. I count there are 472 people with the last name Black. There are 216 addresses. Some of the Blacks live together, obviously. I calculated that if I go to 2 every Saturday plus holidays, minus my hamlet school plays, my minerals, coins, and comic convention, it's going to take me 3 years to go through all of them. But that's what I'm going to do! Go to every single person named Black and find out what the key fits and see what dad needed me to find. I made the very best possible plan but using the last four digits of each phone number, I divide the people by zones. I had to tell my mother another lie, because she wouldn't understand how I need to go out and find what the key fits and help me make sense of things that don't even make sense like him being killed in the building by people that didn't even know him at all! And I see some people who don't speak English, who are hiding, one black said that she spoke to God. If she spoke to God how come she didn't tell him not to kill her son or not to let people fly planes into buildings and maybe she spoke to a different God than them! And I met a man who was a woman who a man who was a woman all at the same time and he didn't want to get hurt because he/she was scared that she/he was so different. And I still wonder if she/he ever beat up himself, but what does it matter?  And I see Mr. Black who hasn't heard a sound in 24 years which I can understand because I miss dad's voice that much. Like when he would say, "are you up yet?" or... And I see the twin brothers who paint together and there's a shed that has to be clue, but it's just a shed! Another black drew the same drawing of the same person over and over and over again! Forest black, the doorman, was a school teacher in Russia but now says his brain is dying! Seamus Black who has a coin collection, but doesn't have enough money to eat everyday! You see Olive Black was a gate guard but didn't have the key to it which makes him feel like he's looking at a brick wall. And I feel like I'm looking at a brick wall because I tried the key in 148 different places, but the key didn't fit. And open anything it hasn't that dad needed me to find so I know that without him everything is going to be alright. And I still feel scared every time I go into a strange place. I'm so scared I have to hold myself around my waist or I think I'll just break all apart! But I never forget what I heard him tell mom about the sixth borough. That if things were easy to find. And I'm so scared every time I leave home. Every time I hear a door open. And I don't know a single thing that I didn't know when I started! It's these times I miss my dad more than ever even if this whole thing is to stop missing him at all! It hurts too much. Sometimes I'm afraid I'll do something very bad. (Oskar Schell)


Sekali tarikan nafas. Huff. It hurts too much. It is, boy.

Oskar Schell, dipaksa untuk menerima bahwa ayahnya tak lagi ada di dunia dalam peristiwa 9/11, dalam waktu yang tak lebih lama daripada kecepatan cahaya. Sedih, marah, namun juga rasa bersalah: mengapa tak punya cukup keberanian untuk mengangkat sambungan ketika ayah bersuara untuk yang terakhir kalinya? Rasa yang berkecamuk sedemikian rupa, membuncah ruah, hingga mampu mendobrak rasa takut dalam dirinya. Menghadapi dunia, bis berkecepatan tinggi, lengkingan suara, kilatan cahaya, orang berlari di jalan terbuka, gonggongan anjing, decit engsel jembatan, dan akhirnya ia harus membunyikan tamborinnya untuk meredakan kepanikan.

Ia melawan dirinya. Memutuskan untuk melakukan pencarian yang panjang dan remang. Memulai perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan yang lahir dari perasaan kehilangan-ayah-yang-sangat-amat: kunci apakah ini? Terletak di dasar sebuah vas biru yang tak sengaja jatuh, sebuah kunci menjadi titik tolak. Bertanya kepada ahlinya, membuka buku cari-tahu-dengan-jarimu, membuat daftar 472 nama tuan, nona, atau nyonya Black, menyusun dan membagi lokasi berdasarkan 4 digit terakhir nomor telepon rumah, melingkari peta berdasarkan zona, hingga menghitung jumlah hari yang dibutuhkan. Dan ia melangkah, tak sendiri. Ditemani kakek yang memilih untuk diam seribu bahasa dan menggunakan tulisan untuk berbicara. Diulang, tak sendiri. Karena ternyata sang bunda pun diam-diam ‘menemani’ Oskar dengan cara yang ah-luar-biasa.

Film ini diangkat dari novel Jonathan Safran Foer (Everything is Illuminated), disutradarai Stephen Daldry, yang sekali lagi mampu mencuri hati saya setelah Billy Elliot. Daldry mampu menggambarkan emosi Oskar dengan sangat gamblang sekaligus menawan. Peran dan penggambaran interaksi antar tokoh yang dijalin dengan sangat apik, membuat ide utama dari jalan cerita yang berupa pencarian menjadi kuat sekaligus tak berdiri sendiri. Ambil saja satu adegan manis. Ketika Oskar beradu kata dengan sang bunda, lalu ia membanting pintu, pelan-pelan berlutut, lalu berbisik, “I love you” kepada ibunya yang berada di sisi sebelah sana.

Sepanjang film, dialog berupa monolog yang disertai dengan ekspresi dan gestur yang menguatkan, sukses membuat ikut 'merasa'. Kecuali jika anda menahan emosi atas nama maskulinitas, itu lain cerita. 

Jun 29, 2012

Midnight in Paris (2011) : the right movie at the right time



We all fear of death, and questioned our place in the universe.
The artist's job is not to succumb to despair, but to find an antidote for the emptiness of existence
Gertrude Stein

Enggan mengikuti ajakan sang tunangan dan para temannya, Gil Pender melangkah setengah mabuk dan tersesat di tengah kota. Lalu, voila! Sebuah mobil kuno tiba, dan..

Paris di malam hari, tahun 1920-an, siapa yang tak jatuh cinta? When the rain wasn't acid rain, no global warming, no tv, and suicide bombing, nuclear weapon, drug cartel, and cliche horror story. And yes, art is at its Golden Age. Ketika 'tugas' seniman adalah sebagai pemulih dari kekosongan eksistensi manusia pada masa itu. Tak heran, pernyataan ini membuka pintu fantasi sang pengelana waktu, dengan bertemu para 'pengemban tugas' tersebut.

Pilihannya cuma dua untuk Gil. Ini mimpi, atau saya gila? Tapi siapa yang tak menganggap dirimu gila ketika bertemu Hemingway dan Fitzgerald dalam satu malam? Lalu tiba-tiba draft novelmu dibaca dan disukai oleh Gertrude Stein? Kemudian kau bertemu Picasso ketika ia melukiskan sisi sensualitas sang kekasihnya, Adriana? Pada akhirnya, tunanganmu mengira kau terkena tumor otak ketika kau bercerita mengenai malam-malam itu layaknya anak usia lima.

Nostalgia is denial. Denial of the painful present.
Damn right. Woody Allen nampaknya tahu betul penyakit orang-orang yang melakukan mekanisme flight than fight dengan kembali ke masa lalu. Tak hanya lari sesaat, namun nampaknya terjebak. Tokoh Gil pun akhirnya mengalami dilema dengan dua cinta pada dua dunia yang berbeda. Inez, tunangannnya di masa kini dengan segala keriuhan dalam hubungan, atau Adriana, perempuan di masa lalu yang menawan hati para seniman? He is definitely denying his present. Woody Allen jelas mengusik hati penontonnya. There's Gil inside yourself, more or less. Yesterday, now, or tomorrow. Nostalgia jelas sulit ditampik ketika kau dihadapkan pada kerasnya hidupmu sekarang.

Mulai dari opening scene pemandangan kota Paris diiringi musik manis selama 3 menit, poster film yang dihiasi goresan Van Gogh, hingga detik terakhir ketika hujan turun malam hari. Tanpa ada kesan berlebih, Woody Allen menggoreskan senyuman lebar di wajah para penonton. This movie was just 'right'.

Jun 6, 2012

I Am Sam (2001)



"I want no other daddy but you. DID YOU HEAR THAT? I SAID I DIDN'T WANT ANY OTHER DADDY BUT HIM. WHY DON'T YOU WRITE THAT DOWN?!"

Setiap malam ia membuka jendela kamarnya, melangkah turun dari beranda lantai dua, berjalan 2 blok melalui toko 24 jam, mengetuk jendela kamar apartemen ayahnya, lalu terlelap pulas di pelukan sang ayah. Lalu sang ayah akan menggendongnya dalam pelukan, dan mengembalikannya kepada orangtua asuhnya. 

Ketukan palu hakim tak cukup mengetuk hati petugas sosial. Sam, sang ayah, memiliki kapasitas intelektual setara dengan anak usia 7 tahun. Salah? Tidak. Tapi menjadi masalah ketika Lucy, sang anak, beranjak di usia yang sama. Ketika telinganya membesar dan matanya menua, ujar Sam.

Apa rasanya ketika bagian besar dari dirimu diambil begitu saja? Dipisahkan, direbut, dijauhkan. Hilang, dan berlubang. Bahkan ketika ditambal, rasanya tak akan sama. Karena memang beda. Dan kau tak butuh yang beda. 

Mungkin ada banyak Sam dan Lucy di dunia. Ayah dan putrinya yang tak bisa lagi merangkai cerita dalam ruang yang sama. Karena orang lain menganggap anak berhak mendapatkan yang terbaik. Terbaik kata siapa? Orang lain yang mungkin tak tahu akan seberapa besar lubang yang mereka ciptakan. Tahu apa mereka tentang rasa yang ada dalam hati kecil ayah dan sang putri? Maybe yes, living is easy with eyes closed. Misunderstanding all you see.

Jan 20, 2012

Restless (2011)



"i see now, that death is easy. it is love that it is hard."

ketika gambar diri sang kekasih terpampang di meja. dan ia, sang lelaki, berdiri di atas podium untuk menyampaikan salam terakhirnya. tak ada tangis, tak ada air mata. ia tersenyum mengingat gadisnya.

"how long?"
"three months?"


mereka berdua yang sangat dekat dengan kematian, namun tak gelap. mencoba berdamai serta menghias sisa waktu usia dengan senyum dan tawa. berdialog dengan alam semesta dan makhluk hidupnya. bercengkrama dengan orang-orang sekitar yang kau tak tahu itu siapa. 

ketika kau tahu sisa waktumu di dunia,
apa yang lebih indah daripada cinta?

Nov 15, 2009

Slepè Làsky [2008] : cinta (tak) buta


Buta mata, tak berarti buta raga, apalagi rasa. Ketika salah satu indera tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, mereka tetap hidup. Bahkan lebih hidup.



Mobil tetangga belum terdengar derunya.
Di pagi hari, ketika jamnya berbunyi, ia tak bergegas. Bangkit, perlahan ia dentingkan nada. Rapi. Sama sekali rapi. Mengiringi suara malaikat-malaikat kecil yang bernyanyi dari hati. Mereka tak mati.



Aku ingin kau tahu, aku mencintaimu.
Jemari tangannya menekan barisan huruf. Tak melihat layar, ia hanya mendengar bunyinya. Satu, berarti huruf A. Dua, untuk huruf B. Pesannya terkirim. Tak lama, sebuah balasan datang, Aku berbadan dua. Orangtuaku berkata, kamu atau mereka?



Jika nanti anak kita buta, paling tidak ia tahu caranya menyeberang. Lebih awal daripada kita.
Dan ternyata, Tuhan Maha Baik. Sang anak mampu bertutur panjang tentang indahnya dunia pada sang bunda. Dengan mata setengah terpejam, bibir kecilnya tak henti mengucap kata, Dunia itu indah, Mama…



Aku ingin mereka melihat diriku. Walau aku tak mampu melihat mereka.
Ia duduk di depan layar. Suatu benda yang mengenalkan padanya cinta. Walaupun maya. Ia tersenyum manis. Membayangkan sosok sang lelaki pujaan yang bersemayam dalam hatinya. Ia merah muda.



Empat pasang manusia penuh rasa, mereka bahagia. Dan dunia terasa lebih indah. Berwarna.

Nov 7, 2009

Screaming Masterpiece (2005) : teriak tanpa batas



"We're just doing what something inside of us tells us to do."

- Mum


Denting dalam hening. Mereka bebas, lepas menari layaknya peri. Tak terikat, mereka manusia apa adanya. Tak peduli dengan platinum, tak peduli dengan berapa jumlah pasang telinga yang mendengar, musik dimainkan total sebagai ekspresi rasa.

Mereka menyadarkan untuk peka. Musik berasal dari bumi. Buka telinga dan mata. Sepotong gergaji patah di garasi mampu menghasilkan gaung yang membius. Lempeng bebatuan yang berbaris dapat bernyanyi rapi. Suara mobil tetangga depan rumahmu adalah deruan nada.

Menyaksikan mereka, membuatmu dapat merasa. Dinginnya salju di tapak kaki. Pekatnya warna hitam pasir di dataran rendah. Jingganya matahari sore di batas pandangan mata. Sekilas nampak kaku, namun hidup.

Mereka bilang, tak mudah menjadi seorang Icelandic. Mereka mengaku berada di tengah, antara Amerika dan Eropa. Menjadi bagian dari sebuah negara bekas jajahan yang sempat mengalami krisis identitas. Terhimpit, namun mereka berhasil membuka katupnya. Melahirkan teriakan tanpa batas sebagai karya. Yang agung.

Feb 24, 2009

Cinema Paradiso (1988)


Living here day by day, you think it's the center of the world. You believe nothing will ever change. Then you leave: a year, two years. When you come back, everything's changed. The thread's broken. What you came to find isn't there. What was yours is gone.” - Alfredo.

Cinema Paradiso bercerita tentang kehidupan masa lalu Salvatore Di Vita, seorang sutradara terkenal asal Italia. Salvatore, atau Toto, adalah seorang anak lelaki berusia 6 tahun yang ditinggal ayahnya bertempur pada Perang Dunia II. Melalui satu-satunya gedung bioskop lokal di kotanya, dan seorang ahli proyektor bernama Alfredo, Toto menemukan dunia baru yang kemudian ditekuninya sebagai profesi yaitu : film.

Ketertarikan Toto kecil akan dunia film tercipta melalui interaksi hubungan yang erat antara dirinya dengan Alfredo. Bagaimana Alfredo memberikan ‘ilmu’nya kepada Toto, bagaimana Toto menyelamatkan nyawa Alfredo, semua digambarkan dengan sederhana, namun indah. Dan pada akhirnya ketika Toto menginjak usia remaja dan mulai mengenal wanita, itu pun serasa tak ingin dilewatkan begitu saja. 

Saya terkesan dengan kuatnya karakter Alfredo sebagai ‘figur ayah’ bagi Toto. Alfredo yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di ruang proyektor, ternyata mampu memberikan hal-hal yang luar biasa bijaknya mengenai hidup kepada Toto. Walaupun kebijaksanaan yang diberikan oleh Alfredo baru terasa di sepertiga akhir film, sementara saya sempat mengerutkan dahi pada menit-menit di pertengahan film akibat suatu pernyataan yang diucapkan Alfredo kepada Toto remaja. That once he leaves, he must pursue his destiny wholeheartedly and never look back and never return — never returning to visit, never to give in to nostalgia, never to even write or think about them

Menyaksikan Cinema Paradiso seperti layaknya menikmati coklat pasta. Panjang dan lama (berdurasi kurang lebih 175 menit), namun nikmat luar biasa. Giuseppe Ternatore mampu mencuri perhatian dengan menyajikan alur cerita yang halus dan sederhana, namun mengena di hati. Film ini mewakili hampir segala bentuk emosi dasar yang dimiliki manusia – senang, sedih, marah, takut, dan kecewa. Sulit bagi saya untuk tidak mengapresiasi film ini dalam bentuk opini. Saya berikan tepuk tangan luar biasa bagi mereka yang telah berhasil mempersembahkan Cinema Paradiso untuk dunia.

Nov 12, 2008

Control (2007)


I wish I were a Warhol silk screen hanging on the wall. Or little Joe or maybe Lou. I'd love to be them all. All New York's broken hearts and secrets would be mine. I'd put you on a movie reel, and that would be just fine.

- Ian Curtis

Dan tepuk tangan pun riuh terdengar ketika lampu dinyalakan. Breathtaking. Film ini benar-benar mampu membuat nafas tertahan selama beberapa saat tanpa disadari. Mampu membuat mata tertuju pada layar dalam jangka waktu tidak sebentar.

Film yang diangkat dari buku Touching From A Distance karya Deborah Curtis (istri sang tokoh utama) bercerita tentang kehidupan seorang vokalis band ternama Joy Division, Ian Curtis. Hitam putih. Pada awalnya saya bertanya-tanya mengapa. Namun setelah membaca latar belakang kehidupan sang sutradara, Anton Corbijn, sebagai fotografer band tersebut, maka saya pun merasa mendapatkan jawaban.

Karakter Ian Curtis dalam film ini digambarkan sangat kompleks. Depresi. Marah. Kehilangan kontrol diri. Menikah pada usia sangat muda, 19 tahun dan memiliki seorang anak perempuan pada usia 21 tahun, tentu bukanlah hal yang mudah. Ditambah lagi karir musiknya yang bisa dibilang sedang berada di puncak.

Epilepsi. Penyakit yang berada pada tubuh sang vokalis tidak membuat hidupnya semakin mudah. Kejenuhan. Pada akhirnya, perselingkuhan dengan seorang interviewer, Annik Honoré. Ian mengaku kepadanya bahwa his marriage was a mistake. Secarik surat ia sampaikan pada sang istri, Debbie,

"No need to fight now.
Give my love to Annik.
Ian."

Dan hidupnya pun berakhir di usia muda, 23 tahun. Bunuh diri. Tekanan yang bertubi-tubi akan kehidupannya tak mampu lagi ditahan. Maka nyawanya pun berakhir di tepi seutas tali. Ironis.